Bupati Pemalang Datang Terlambat di Halal Bihalal Muhammadiyah, Jemaah Bubar
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro berbincang dengan Pimpinan Muhammadiyah dan Panitia Halal Bihalal di Gedung DPRD Pemalang--Mukhtarom
PEMALANG, diswayjateng.com – Kegiatan Halal Bihalal warga Muhammadiyah Kabupaten PEMALANG berlangsung meriah di Pendopo Kantor DPRD PEMALANG, Minggu pagi (29/3/2026). Ribuan jemaah memadati lokasi untuk mengikuti rangkaian acara silaturahmi dan tausiyah keagamaan.
Diperkirakan sekitar lima ribu jemaah serta pengurus Muhammadiyah hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka antusias mengikuti tausiyah yang disampaikan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Tafsir.
Panitia sebelumnya juga mengundang Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro. Namun, hingga acara dimulai pukul 08.00 WIB, orang nomor satu di Pemalang itu belum tampak hadir di lokasi.
Dalam tausiyahnya, Tafsir menekankan pentingnya menjaga tradisi halal bihalal sebagai bagian dari penguatan silaturahmi. Halal bihalal merupakan bagian dari tradisi Nusantara yang harus terus dilestarikan.
"Halal bihalal memiliki multi fungsi, yakni sebuah tradisi yang diserap dari syariat, yaitu syariat silaturahmi yang diturunkan menjadi budaya bangsa, tentu bukan perkara mudah, tapi inilah prestasi dakwah yang luar biasa, bagaimana syariat menjadi budaya," ungkapnya.
Halal bihalal, lanjut Tafsir, dinilai sebagai kreativitas budaya sebagai upaya untuk islamisasi budaya lokal.
"Ini kreatifitas islamisasi, islam adalah Quran dan Hadits tapi islamisasi butuh kreatifitas. Inilah bagian dari kreatifitas budaya keagaamaan. sebagai upaya internalisasi dan ideologisasi nilai islam terhadap masyarakat dan budaya Indonesia," kata Tafsir.
Muhammadiyah Pelopor Halal Bihalal
Halal bihalal diakui merupakan tradisi asli masyarakat Indonesia. Muhammadiyah mengawali tradisi ini sejak 1930-an sebagai sarana silaturahmi antarwarga.
"Jadi Muhammadiyah justru yang mengawali halal bihalal, sejak tahun 1930an, Muhammadiyah tidak pernah lupa akan tradisi, yang berfungsi untuk islamisasi, sehingga halal bihalal untuk mentradisikan nilai-nilai islam di tengah masyarakat dan budaya bangsa," kata Tafsir.
Jemaah Muhammadiyah diajak untuk melestarikan halal bihalal tanpa keraguan, karena memberikan dampak positif.
"Muhammadiyah jangan kehilangan kepercayaan diri untum mempertahankan budaya keagamaan itu, sehingga kalimat "mohon maaf lahir batin", "minal aidin wal fa'izin" tidak perlu dihapus dari kartu idul fitri dan spanduk lebaran, tidak perlu dibuang, karena itu bentuk pemaknaan idul fitri sesuai dengan konteks keindonesiaan sehingga jangan dibuang tapi dipertahankan," terang Tafsir.
Selain itu, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang tersebut berharap soliditas warga Muhammadiyah di Pemalang terus terjaga dan hubungan dengan pemerintah daerah semakin harmonis.
"Semoga jalinan silaturahmi dan soliditas warga Muhammadiyah Pemalang semakin kuat, dan hubungan dengan pemerinrah daerah harmonis, karena dakwah tidak akan lancar tanpa dukungan penguasa daerah," pungkas Tafsir.
Bupati Pemalang Datang Terlambat, Jemaah Bubar
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


