Bule Sepoor
--
Oleh: Wawan Setiawan
Pemimpin Redaksi Diswayjateng.id
WOW! Ini kabar dari Semarang. Lebih tepatnya dari Daop 4. PT KAI lagi tersenyum lebar. Saking lebarnya, mungkin senyumnya sampai nempel ke telinga.
Bayangkan. Jumlah bule yang naik kereta api melonjak. Naik tajam. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, angkanya tembus 51.372 orang. Itu warga negara asing. Bule asli. Bule beneran. Bukan bule-bulean yang rambutnya pirang semiran.
Naiknya tidak main-main. Sebanyak 9,38 persen dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu hanya 46.968 orang. Sekarang? Jalur rel Jawa Tengah penuh sesak dengan aroma parfum internasional.
Saya merenung. Mengapa bule suka naik kereta kita? Padahal di negaranya, keretanya sudah bisa terbang. Minimal secepat kilat. Kecepatan peluru.
Ternyata jawabannya sederhana. Keindahan lanskap.
Mereka bosan dengan kecepatan. Mereka ingin menikmati hidup. Menikmati hamparan sawah. Memandang pesisir pantai utara. Menembus hutan jati di Blora. Dan tentu saja, mereka ingin merasakan sensasi eksotis. Sensasi bergoyang pelan mengikuti ritme rel Jawa lintas utara.
Manager Humas Daop 4, Luqman Arif, sampai bangga bukan main. Kereta kita dinilai efisien. Bersih. Tepat waktu. Dan yang paling penting bagi bule: ramah lingkungan. Bule itu sangat sensitif soal karbon. Mereka tidak mau menyumbang polusi saat berlibur.
Stasiun Semarang Tawang jadi juaranya. Menampung 24.976 bule. Disusul Poncol. Lalu Tegal dengan 6.238 bule. Pekalongan, Pemalang, sampai Weleri tidak mau kalah. Semua kebagian jatah kedatangan turis. Ekonomi bergerak.
Mungkin para bule itu penasaran dengan Stasiun Tanggung di Grobogan. Itu stasiun tertua. Dibangun tahun 1867. Bule-bule Eropa mungkin ingin bernostalgia. Ingin melihat hasil karya kakek buyut mereka zaman dulu. Siapa tahu ada batu bata yang tertulis nama eyangnya.
Tapi saya agak khawatir. Khawatir soal komunikasi. Kereta kita sudah keren. Pramugarinya cantik-cantik. Seragamnya rapi. Tapi bagaimana dengan pengumuman di dalam gerbong? Apakah bahasa Inggrisnya sudah pas?
Jangan sampai pengumuman "Jalur dua kereta akan lewat" diterjemahkan menjadi "Track two the train wants to lewat". Bisa bingung itu bule. Bisa-bisa mereka turun di tengah sawah karena menyangka ada festival lokal.
Tentu, KAI berjanji terus berbenah. Menjaga keandalan prasarana. Mengutamakan keselamatan. Itu wajib. Tidak boleh ditawar.
Kita dukung penuh. Biar Jawa Tengah makin mendunia. Biar stasiun tua kita tidak hanya jadi tempat syuting video klip lagu patah hati.
Kereta kita sudah maju. Bule saja betah. Masa kita yang lokal masih hobi naik motor sambil lawan arah? (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



