Membaca Komunikasi Simbolik di Balik Tiga Jari

Sabtu 07-11-2026,06:11 WIB

Dengan demikian, tiga jari tidak otomatis berarti penolakan terhadap seluruh kebijakan pemerintah. Maknanya perlu dibaca berdasarkan konteks aksi, pernyataan penyelenggara, slogan, dan tuntutan yang menyertainya. Dalam gerakan Indonesia Sadar, pesan yang dibawa peserta aksi dapat dipahami melalui tuntutan yang mereka sampaikan, bukan semata-mata dari gesturnya.

Perspektif interaksionisme simbolik yang dikembangkan George Herbert Mead dan Herbert Blumer memperkuat penjelasan tersebut. Makna simbol terbentuk dan berkembang melalui interaksi sosial. Ketika sebuah gestur digunakan berulang kali dalam demonstrasi, diberitakan media, lalu dibagikan melalui media sosial, masyarakat mulai mengenali simbol itu dan menghubungkannya dengan pengalaman atau nilai tertentu.

Di sinilah simbol menjadi lebih dari sekadar gerakan fisik. Ia menjadi bahasa bersama bagi orang-orang yang mungkin memiliki latar belakang berbeda, tetapi merasa memiliki kegelisahan yang beririsan.

Sementara itu, model komunikasi sirkular Wilbur Schramm mengingatkan bahwa komunikasi bukan proses satu arah. Pesan tidak hanya dikirim oleh demonstran kepada pemerintah. Pesan juga ditafsirkan oleh masyarakat, diberitakan media, direspons pejabat, lalu kembali memengaruhi percakapan publik.

Respons pemerintah terhadap aspirasi, misalnya melalui dialog, klarifikasi, perubahan kebijakan, atau penolakan, menjadi bagian dari proses komunikasi tersebut. Dari perspektif komunikasi politik, demonstrasi dapat dipahami sebagai saluran masyarakat untuk menyampaikan evaluasi terhadap kekuasaan. Simbol tiga jari membantu menarik perhatian, tetapi substansi komunikasinya tetap berada pada persoalan dan tuntutan yang ingin disampaikan.

Lima tuntutan Gerakan Indonesia Sadar pada 28 Oktober 2026 memberikan gambaran mengenai persoalan yang ingin disoroti oleh kelompok demonstran. Pertama, penanganan krisis ekologis dan pertanggungjawaban atas kebakaran hutan. Kedua, penggunaan anggaran negara untuk kepentingan masyarakat. Ketiga, pendidikan yang terjangkau dan lapangan kerja yang layak. Keempat, penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Kelima, perlindungan kebebasan sipil dan hak asasi manusia. Lima isu itu menunjukkan bahwa pesan Gerakan Indonesia Sadar bukan semata-mata tentang simbol tiga jari. Simbol tersebut menjadi pintu masuk untuk membicarakan hubungan antara kebijakan publik, kesejahteraan, lingkungan, keadilan, dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Komunikasi yang sehat membutuhkan dua hal, kebebasan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan kesediaan pemegang kekuasaan untuk mendengarkan serta memberi jawaban yang substantif.

Pada akhirnya, simbol tiga jari bukanlah tujuan. Ia merupakan medium untuk menyampaikan pesan, membangun solidaritas, dan mengundang perhatian terhadap persoalan yang dinilai penting. Tiga jari Gerakan Indonesia Sadar pada akhirnya mengajukan pertanyaan yang lebih besar daripada arti sebuah gestur: apakah pesan masyarakat akan berhenti sebagai gambar di media sosial dan dokumentasi demonstrasi, atau menjadi bagian dari dialog yang menghasilkan evaluasi serta perubahan nyata?

Jawabannya tidak ditentukan oleh simbol itu sendiri. Ia ditentukan oleh apa yang dilakukan masyarakat setelah menyuarakan aspirasi dan bagaimana pemerintah menanggapi suara tersebut. Sebab, dalam demokrasi, kesadaran bukan hanya tentang berani bersuara.

Kesadaran juga berarti memahami persoalan, mengawal kebijakan, dan memastikan bahwa suara publik memperoleh ruang untuk didengar. Tiga jari mungkin hanya sebuah simbol, tetapi pesan di baliknya menuntut sesuatu yang jauh lebih besar yaitu komunikasi yang terbuka, kekuasaan yang akuntabel, dan kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyaraka kesadaran bukan hanya tentang berani bersuara.

Kesadaran juga berarti memahami persoalan, mengawal kebijakan, dan memastikan bahwa suara publik memperoleh ruang untuk didengar. Tiga jari mungkin hanya sebuah simbol, tetapi pesan di baliknya menuntut sesuatu yang jauh lebih besar yaitu komunikasi yang terbuka, kekuasaan yang akuntabel, dan kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Tags :
Kategori :

Terkait