Menyingkap Buku Gus Dur, Tuhan Tidak Perlu Dibela

Sabtu 31-10-2026,08:10 WIB

Gus Dur menyadari bahwa selama ini banyak umat Islam yang tidak bisa membedakan antara Islam dan Arab, sehingga mereka menganggap bahwa menjadi Muslim yang baik harus menjadi Arab secara kultural, harus berbahasa Arab, berpakaian Arab, dan berbudaya Arab. Padahal, menurut Gus Dur, Islam datang untuk semua bangsa, dan ia harus bisa berdialog dengan kebudayaan lokal di mana pun ia berada.

Di Jawa, Islam harus bisa berdialog dengan wayang dan gamelan, di Sumatra ia harus berdialog dengan adat Minangkabau, dan di Sulawesi ia harus berdialog dengan tradisi Bugis. Proses dialog inilah yang kemudian melahirkan Islam Nusantara, Islam yang khas Indonesia, yang ramah, yang toleran, dan yang tidak mudah mengkafirkan orang lain.

Pribumisasi adalah antitesis dari Arabisasi, ia adalah upaya untuk membumikan Islam agar ia tidak menjadi sesuatu yang asing di tanahnya sendiri. Dalam konteks inilah, judul Tuhan Tidak Perlu Dibela menjadi sangat relevan, karena mereka yang ingin mengarabkan Islam Indonesia sesungguhnya sedang membela budaya Arab, bukan membela Tuhan.

Lebih jauh, buku ini juga menyingkap sisi Gus Dur sebagai seorang pembela kemanusiaan yang radikal. Radikal di sini dalam arti ia berani kembali ke akar persoalan, ke akar dari ajaran agama itu sendiri, yaitu kemanusiaan. Bagi Gus Dur, tugas utama agama bukanlah untuk mengatur bagaimana manusia menyembah Tuhan di ruang privat, melainkan bagaimana agama bisa membuat manusia menjadi lebih manusiawi dalam ruang publik.

Oleh karena itu, ia tidak pernah lelah untuk membela kelompok-kelompok minoritas yang tertindas, baik itu minoritas agama, minoritas etnis, maupun kelompok-kelompok yang dianggap menyimpang secara moral. Pembelaannya terhadap minoritas bukanlah sebuah sikap politik yang oportunistik untuk mencari simpati, melainkan sebuah konsekuensi logis dari pemahamannya tentang Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta alam.

Jika rahmat itu hanya berlaku bagi sekelompok orang yang seiman dan sepaham saja, maka ia bukanlah rahmat yang semesta, ia adalah rahmat yang sektarian. Gus Dur memahami bahwa esensi dari tauhid bukanlah sekadar mengakui keesaan Tuhan, melainkan mengakui kesatuan kemanusiaan yang berasal dari Tuhan yang Esa.

Jika Tuhan itu satu, maka kemanusiaan itu juga satu. Maka, merendahkan martabat manusia lain atas nama agama adalah sebuah pengkhianatan terhadap tauhid itu sendiri. Inilah logika teologis yang sangat mendalam yang melandasi seluruh aktivisme kemanusiaan Gus Dur.

Membaca kembali buku Tuhan Tidak Perlu Dibela di tahun 2026 ini, di tengah situasi di mana ruang publik kita semakin bising oleh klaim-klaim kebenaran yang absolut, di mana orang lebih suka menang sendiri daripada memahami lawan bicaranya, dan di mana agama semakin sering dijadikan alat untuk memobilisasi kebencian politik, terasa sangat relevan dan bahkan terasa mendesak. Kita hari ini sedang mengalami apa yang bisa disebut sebagai krisis adab dalam beragama.

Kita kehilangan humor, kita kehilangan kemampuan untuk tertawa, kita kehilangan kemampuan untuk melihat diri sendiri secara kritis. Gus Dur adalah sosok yang penuh dengan humor, humornya bukanlah humor yang murahan, melainkan humor yang merupakan bentuk tertinggi dari kebijaksanaan, karena humor adalah kemampuan untuk melihat paradoks dalam diri sendiri.

Orang yang bisa menertawakan dirinya sendiri adalah orang yang tidak akan mudah marah ketika dikritik, dan orang yang tidak mudah marah adalah orang yang tidak akan mudah melakukan kekerasan atas nama agama. Buku ini mengajarkan kita untuk beragama dengan santai, dengan gembira, dan dengan penuh cinta, bukan beragama dengan penuh ketegangan, kecemasan, dan kebencian.

Pada akhirnya, menyingkap buku Gus Dur ini bukanlah sekadar sebuah aktivitas intelektual untuk memahami pemikiran seorang tokoh, melainkan sebuah aktivitas spiritual untuk menemukan kembali jati diri keislaman kita yang hilang. Gus Dur ingin mengingatkan kita bahwa tugas kita sebagai manusia bukanlah untuk menjadi pengacara Tuhan yang sibuk membela Tuhan di pengadilan dunia, melainkan untuk menjadi hamba Tuhan yang sibuk membela ciptaan Tuhan yang lemah dan tertindas.

Tuhan tidak perlu dibela, karena Ia Maha Kuasa, tetapi manusia perlu dibela, karena ia lemah. Minoritas perlu dibela, orang miskin perlu dibela, korban ketidakadilan perlu dibela, dan lingkungan yang rusak perlu dibela. Di situlah letak keberagamaan yang sejati, bukan pada seberapa keras kita berteriak membela Tuhan, melainkan pada seberapa tulus kita bekerja membela kemanusiaan.

Jika kita sudah memahami logika sederhana namun mendalam ini, maka kita akan berhenti untuk saling mengkafirkan, saling membid'ahkan, dan saling menyalahkan atas nama Tuhan, dan kita akan mulai untuk saling merangkul, saling membantu, dan saling mencintai karena Tuhan. Dan mungkin, itulah cara terbaik untuk benar-benar membela Tuhan, yaitu dengan membela kemanusiaan yang diciptakan oleh-Nya.

Inilah warisan intelektual terbesar dari Gus Dur yang tidak boleh kita lupakan, terutama ketika kita sedang berupaya untuk menyemai kedamaian di bumi Nusantara yang hari ini sedang sangat membutuhkan keteladanan dari seorang guru bangsa yang mengajarkan bahwa kedamaian itu lahir dari kemampuan untuk menertawakan diri sendiri dan mencintai orang lain tanpa syarat.

Tags :
Kategori :

Terkait