Di sisi lain, pengelola penyediaan makanan perlu memperhatikan waktu antara makanan selesai dimasak dan saat dikonsumsi. Jeda yang terlalu panjang tanpa pengendalian suhu yang memadai dapat meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba pada makanan tertentu.
Makanan Basah dan Olahan Hewani Perlu Mendapat Perhatian
Ida turut mengingatkan bahwa beberapa jenis makanan lebih rentan mengalami kerusakan apabila tidak ditangani dengan benar. Makanan berkuah, bersantan, serta olahan berbahan hewani termasuk jenis yang perlu mendapat perhatian dalam pengaturan waktu penyajian.
“Makanan-makanan yang lebih berisiko untuk lebih cepat basi, seperti yang bersantan atau berkuah, termasuk makanan olahan dari hewani, sebaiknya segera dikonsumsi setelah makanan masak,” ujarnya.
Pengaturan waktu konsumsi perlu disertai pengendalian suhu dan kebersihan selama penyimpanan maupun distribusi. Dengan demikian, makanan tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga tetap aman ketika dikonsumsi.
Kasus dugaan keracunan MBG di Bawang menjadi pengingat bahwa keberhasilan program pemenuhan gizi tidak cukup diukur dari jumlah makanan yang disalurkan. Keamanan pangan harus menjadi bagian utama dalam setiap tahapan, mulai dari pemilihan bahan hingga makanan diterima penerima manfaat.
Hasil pemeriksaan laboratorium yang mengungkap cemaran mikroba memberikan petunjuk penting bagi penelusuran kasus tersebut. Namun, berdasarkan keterangan Dinkes Batang, penyebab pasti dan sumber pencemaran belum dapat ditetapkan hanya dari sampel yang telah diperiksa.
Karena itu, ketepatan pengambilan sampel, evaluasi proses pengolahan, serta pengawasan distribusi menjadi aspek penting dalam upaya memperjelas kejadian yang berdampak pada 717 orang tersebut.