BATANG, diswayjateng.id – Hasil pemeriksaan laboratorium kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, mulai mengungkap petunjuk penting. Dinas Kesehatan (Dinkes) Batang menemukan cemaran mikroba pada sampel makanan dan feses penderita dalam peristiwa yang berdampak pada 717 orang pada 23 September 2026.
Temuan tersebut memperkuat dugaan adanya kaitan antara makanan yang dikonsumsi penerima manfaat dan gangguan kesehatan yang muncul secara bersamaan. Namun, hasil pemeriksaan itu belum cukup untuk memastikan jenis makanan atau tahapan pengolahan yang menjadi sumber pencemaran.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, dr. Ida Susilaksmi, menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut pada Jumat, 9 Oktober 2026. Pemeriksaan dilakukan terhadap seumlah sampel makanan, feses, dan muntahan yang dikumpulkan setelah kejadian.
“Untuk makanan sampel ini ditemukan adanya mikroba. Kemudian di feses juga ada,” ujar Ida saat menjelaskan hasil pengujian laboratorium.
BACA JUGA: Mau Nonton Karnaval di Alun-alun Batang? Penonton Harus Lewat Pengamanan 3 Lapis Ini
BACA JUGA: Tiru Jepang, Siswa SMPN 2 Kandeman Batang Terima MBG Prasmanan
Ida menegaskan, hasil pemeriksaan tidak menunjukkan temuan mikroba pada sampel muntahan yang diuji. Sementara itu, pemeriksaan sampel feses menemukan adanya mikroba. Perbedaan hasil tersebut menjadi bagian dari informasi yang perlu diperhatikan dalam penelusuran penyebab kejadian.
Meski demikian, temuan laboratorium belum dapat digunakan untuk menetapkan satu jenis menu sebagai penyebab pasti. Dinkes Batang masih menghadapi keterbatasan karena sampel makanan yang diperiksa berasal dari tempat penyimpanan sampel di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), bukan makanan yang benar-benar diterima dan dikonsumsi para siswa.
Hasil Lab Keracunan MBG Bawang
Menurut Ida, kondisi makanan dapat berubah selama perjalanan distribusi hingga tiba di sekolah. Karena itu, hasil pemeriksaan sampel yang disimpan di SPPG belum sepenuhnya menggambarkan kondisi makanan ketika sampai di tangan penerima manfaat.
“Karena sampelnya itu sampel yang di bank sampel, kami tidak mendapatkan yang begitu diterima oleh penerima manfaat. Misalnya, begitu sampai di sekolah kondisinya seperti apa. Jadi, kalau ditanya penyebabnya apa, kami tidak bisa menyimpulkan,” jelasnya.
Keterbatasan tersebut membuat penentuan sumber pencemaran membutuhkan kehati-hatian. Keberadaan mikroba dalam sampel makanan dan feses merupakan temuan laboratorium, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan jalur pencemaran maupun menu yang bertanggung jawab.
Sampel makanan yang dikirim untuk pemeriksaan meliputi nasi putih, telur bolognese, cah sayur, tahu goreng tepung, dan anggur. Selain itu, pemeriksaan juga mencakup sampel air bersih serta air bekas pencucian ompreng atau wadah makanan.
Rangkaian sampel tersebut berkaitan dengan sejumlah aspek yang perlu ditelusuri, mulai dari bahan baku, proses memasak, kebersihan peralatan, kualitas air, hingga penanganan makanan selama distribusi.
"Saran kami, tiap sekolah punya bank sample sendiri yang disimpan di kulkas untuk beberapa hari. Jaga-jaga jika terjadi sesuatu,"jelasnya.
Risiko Mikroba Berkembang Selama Distribusi MBG
Kasi Surveilans Dinkes Batang, Nisa, menjelaskan bahwa cemaran mikroba dapat berkaitan dengan proses pengolahan makanan yang kurang matang atau tidak higienis. Mikroba yang awalnya berjumlah sedikit berpotensi berkembang apabila makanan ditangani dalam kondisi yang mendukung pertumbuhannya.