"Saya pesan jangan menolak. Tapi sebelum diberikan harus dicek dulu oleh kader kesehatan, makanan ini bisa dimakan atau tidak. Kalau tidak bisa dimakan, jangan disajikan," katanya.
Terkait usulan agar makanan MBG dicicipi petugas sebelum dibagikan, Suyono menyatakan setuju dengan prinsip tersebut. Menurut dia, pengecekan dapat dilakukan ahli gizi atau tenaga kesehatan di lokasi. Ia menilai pemeriksaan tersebut tidak harus dilakukan oleh guru.
"Saya setuju. Saya di Bawang pernah menyampaikan sekolah harus memastikan bahwa makanan ini sehat dan bisa dimakan," ujarnya.
"Siapa yang nyicipi? Ya monggo ahli gizinya atau ahli kesehatan yang di situ, tidak harus gurunya," lanjut Suyono.
Di tengah penanganan ratusan warga tersebut, Suyono mengatakan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG perlu dilakukan. Ia mengaku telah meminta seluruh SPPG lebih berhati-hati dalam menjalankan program tersebut.
"Saya sudah telepon untuk dilakukan, dipanggil semua SPPG agar lebih berhati-hati. Saya sudah beberapa kali mengadakan rapat dengan SPPG penuh. Saya sampaikan apa adanya, hasil ini seperti ini, kritik masyarakat seperti ini, itu semua harus dibenahi," katanya.
Hingga pembaruan data Dinkes Batang pada Jumat 25 September 2026 pukul 13.00 WIB, total warga yang tercatat dalam penanganan kasus dugaan keracunan tersebut mencapai 521 orang.
Dinkes mencatat 173 orang dirujuk, 326 orang menjalani rawat jalan, dan 23 orang menjalani rawat inap di Puskesmas Bawang.
Data fasilitas kesehatan juga mencatat 66 orang di RSUD Batang, 41 orang di RSUD Limpung, 11 orang di Puskesmas Subah, lima orang di Puskesmas Gringsing 1, dan nihil di Puskesmas Bandar 1.