"Perkembangan hari ini, pagi ini saya belum dapat laporan dari Kapus Bawang. Tapi tadi malam saya sudah di-update sampai jam 21.30, terperiksa itu 498, dirujuk 159, rawat jalan 319, rawat inap Puskesmas Bawang 20," kata Suyono pada Jumat 25 September 2026.
Dalam pembaruan terbaru Dinkes, jumlah pasien bertambah dari 498 menjadi 521 orang atau meningkat 23 orang dibanding data sebelumnya. Jumlah pasien yang dirujuk juga meningkat dari 159 menjadi 173 orang.
Sementara pasien rawat jalan bertambah dari 319 menjadi 326 orang. Adapun pasien yang tercatat menjalani rawat inap di Puskesmas Bawang bertambah dari 20 menjadi 23 orang.
Data terbaru tersebut menjadi perkembangan penanganan setelah dugaan keracunan yang berkaitan dengan konsumsi menu MBG dari SPPG Bawang.
Sebelumnya, Suyono menyampaikan pemerintah daerah terus memantau kondisi warga yang mendapat perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Saat mengecek pasien di RSUD Batang, Suyono menyebut kondisi pasien yang ditemuinya mulai membaik. Ia juga mengatakan tidak ada laporan pasien meninggal dalam penanganan kasus tersebut.
"Alhamdulillah tidak ada yang meninggal, semuanya teratasi dengan baik. Meskipun harus menambah bed-bed yang ada, ditambah dari BPBD yang membantu dan PMI," katanya.
Penanganan pasien dilakukan dengan dukungan sejumlah pihak. Pemerintah juga menambah tempat tidur untuk mengantisipasi kebutuhan perawatan pasien yang datang.
Di sisi lain, Suyono meminta pelaksanaan program MBG dievaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Ia meminta seluruh SPPG di Kabupaten Batang memperhatikan standar operasional prosedur (SOP), terutama berkaitan dengan keamanan makanan sebelum diberikan kepada penerima manfaat.
"Saya ikut prihatin. Tapi ini jangan sampai terulang lagi. SPPG-SPPG yang ada di Batang khususnya harus memperhatikan SOP," tegasnya.
Menurut Suyono, MBG merupakan program pemerintah yang bertujuan meningkatkan asupan gizi anak. Karena itu, keamanan makanan menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya.
"Ini program yang baik, jangan sampai hasilnya tidak baik. Nanti justru masyarakat yang kecewa. Ini program negara yang sangat baik karena meningkatkan gizi untuk masa depan anak-anak kita menjadi generasi penerus bangsa," ujarnya.
Suyono juga mengaku telah berkomunikasi dengan koordinator wilayah terkait pelaksanaan MBG di Batang.
Ia menyinggung pengolahan telur sebagai salah satu menu yang menurutnya dapat dibuat lebih sederhana. Suyono menyarankan telur cukup direbus atau digoreng tanpa tambahan bumbu.
"Saya sudah telepon Korwil. Kalau di Kabupaten Batang, SPPG, telur cukup direbus atau digoreng mata sapi saja. Tidak usah ada tambahan bumbu," katanya.
Selain itu, Suyono mendorong pemeriksaan makanan sebelum menu MBG diberikan kepada penerima manfaat. Menurut dia, makanan yang dinilai tidak layak dikonsumsi seharusnya tidak diberikan kepada anak-anak.