"Kalau benar-benar nanti tidak ada pertanggungjawaban berikutnya, bisa berakibat ditutup," katanya.
Meski terdapat puluhan warga yang mengalami keluhan kesehatan, Suyono belum menyebut kejadian tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Menurutnya, penetapan status KLB membutuhkan pembahasan dan mekanisme tersendiri. Pemerintah masih menunggu perkembangan data serta hasil pemeriksaan medis dan laboratorium.
"Kita belum bisa mengambil bahasa KLB, kejadian luar biasa, karena nanti harus ada rapat tersendiri kalau itu," ujarnya.
Sementara itu, kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap berjalan seperti biasa. Sekolah tidak dihentikan akibat kejadian tersebut.
Suyono mengatakan siswa yang masih mengalami gangguan kesehatan dapat menjalani perawatan sampai kondisinya membaik.
Pemerintah Kabupaten Batang juga masih memantau kondisi para korban yang mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya menjadi salah satu dasar untuk menentukan penyebab kejadian. Pemerintah masih menelusuri proses pengolahan, distribusi, hingga konsumsi makanan MBG tersebut.
Dengan demikian, dugaan keracunan MBG di Kecamatan Bawang belum dapat dipastikan disebabkan menu atau bahan makanan tertentu.
Pemerintah memilih menunggu hasil pemeriksaan sebelum mengambil kesimpulan. Sementara itu, distribusi MBG dari SPPG yang bersangkutan dihentikan sementara sebagai langkah penanganan dan evaluasi.
Kasus tersebut menjadi perhatian karena satu dapur SPPG melayani sekitar 2.700 penerima manfaat. Pengawasan terhadap keamanan pangan menjadi bagian penting dalam memastikan program MBG tetap berjalan tanpa menimbulkan risiko bagi penerimanya.