SEMARANG, diswayjateng.id - Hasil pemeriksaan mikrobiologi terhadap sampel makanan dalam kasus keracunan pangan di SMK Negeri 6 Semarang menunjukkan adanya bakteri Staphylococcus dan Salmonella, terutama pada lauk yang disajikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Temuan yang membuat ratusan siswa dan guru mengalami keracunan pada Jumat (31/7/2026) lalu kini telah dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) dan Menteri Kesehatan.
Sampel lauk yang diperiksa meliputi rendang, ayam, dan telur puyuh. Ketiga jenis lauk yang menjadi sumber protein tersebut disebut sama-sama menunjukkan hasil positif dalam pemeriksaan mikrobiologi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang M Abdul Hakam mengatakan hasil pemeriksaan telah diteruskan kepada pihak terkait untuk menjadi bahan penanganan kasus keracunan pangan sekaligus evaluasi pelaksanaan MBG di Kota Semarang.
“Pelacunan pangan kemarin di SMK Negeri 6, Stafilokokus positif, kemudian Salmonella positif terutama pada lauk. Lauknya kemarin rendang, ayam, telur puyuh, rata-rata di sana. Jadi memang tiga-tiganya yang diprotein positif semuanya itu,” kata Hakam saat ditemui di Balai Kota Semarang, Selasa (11/8/2026).
BACA JUGA:Batang Dapat 1.000 BSPS, Tapi PR Rumah Layak Masih 68.226 Unit
BACA JUGA:Pemkot Salatiga Siapkan Proyek Investasi Hunian Bagi Lansia
Pemeriksaan mikrobiologi secara rutin kemudian direncanakan untuk diperkuat sebagai langkah pencegahan keracunan pangan pada pelaksanaan MBG. Rencana tersebut telah dibahas dalam rapat Satgas MBG yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Semarang bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dalam rapat tersebut, pemeriksaan mikrobiologi setiap hari disebut telah diminta untuk dilakukan sebagai bagian dari mitigasi. Pengambilan sampel nantinya akan melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk puskesmas yang berada di bawah Dinas Kesehatan Kota Semarang.
“Sebetulnya sudah disampaikan oleh beliau sama kawan-kawan juga ya, ada Forkompimda, ada termasuk dari SPPG bahwa kita minta ke depan itu ada pemeriksaan mikrobiologi setiap hari,” ujar Hakam.
Penguatan pemeriksaan tersebut dinilai penting karena kasus keracunan pangan di Kota Semarang sejak 2025 hingga saat ini lebih banyak menunjukkan hasil positif pada pemeriksaan mikrobiologi. Sementara itu, pemeriksaan kimia terhadap sejumlah sampel disebut tidak menunjukkan adanya kandungan berbahaya.
“Dari sekian keracunan di Kota Semarang untuk pemeriksaan kimia negatif semua. Pemeriksaan kimia itu misalnya formalin, boraks, kemudian deterjen, warna negatif semua,” katanya.
Menurut Hakam, pola serupa juga ditemukan dalam tujuh lokasi kasus keracunan pangan yang telah diperiksa. Hasil pemeriksaan disebut lebih banyak didominasi temuan bakteri, seperti Escherichia coli dan Salmonella.
“Tapi keracunan pangan di tujuh tempat itu yang dari 2025 sampai sekarang itu rata-rata didominasi oleh pemeriksaan mikrobiologinya yang positif. Escherichia coli (E.coli), Salmonella positif,” ucapnya.
Melalui pemeriksaan harian, potensi masalah pada makanan diharapkan dapat diketahui sebelum kasus keracunan pangan kembali terjadi. Dengan mekanisme tersebut, tindakan mitigasi dapat dilakukan sejak hasil pemeriksaan menunjukkan adanya indikasi kontaminasi mikrobiologi.
Pengambilan sampel akan dilakukan bersama OPD terkait dengan melibatkan petugas puskesmas. Salah satu bahan makanan yang dapat dijadikan sampel adalah lauk berkuah yang kemudian diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi bakteri, termasuk E. coli.