"Program ini terus berkembang dari tahun ke tahun. Perluasan jangkauan menunjukkan bahwa kolaborasi lintas pihak mampu menghadirkan dampak yang semakin besar dalam mendukung upaya penurunan stunting di Indonesia," ujar Rani.
Menurutnya, keberhasilan program bukan hanya diukur dari jumlah telur yang dibagikan, tetapi juga perubahan perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.
BACA JUGA:Krisis Air Bersih Tegal: Warga Tamansari Jatinegara Berburu Air untuk Penuhi Kebutuhan
BACA JUGA:Komisi I DPRD Dorong Disdikbud Dukung Semarak Bulan Bahasa Kota Tegal
Berdasarkan hasil monitoring internal pada 2025, sekitar 72 persen anak penerima manfaat mengalami peningkatan berat badan sebagai salah satu indikator membaiknya status gizi.
Dia menyatakan, intervensi gizi akan lebih optimal jika dibarengi peningkatan pengetahuan orang tua. Karena itu, pihaknya tidak hanya memberikan telur, tetapi juga menghadirkan edukasi langsung dari para ahli agar keluarga memahami pentingnya gizi seimbang, pola makan yang tepat, serta pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak.
"Harapannya, Program Satu Telur Sehari mampu membentuk kebiasaan hidup sehat dalam keluarga dan berkontribusi menekan angka stunting di Indonesia," tutup Rani.