Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Batang, Suwandi, mengungkapkan hingga pekan ke-27, sebanyak 682 pasien telah ditemukan dan langsung menjalani pengobatan.
Jumlah tersebut masih berada di bawah target tahunan sebanyak 1.800 kasus. Karena itu, Dinas Kesehatan terus mempercepat penemuan pasien pada semester kedua tahun ini.
"Tahun lalu kami menemukan sekitar 1.580 kasus. Tahun ini targetnya meningkat menjadi 1.800 kasus, sehingga upaya penemuan harus lebih agresif," katanya.
Ia menjelaskan target tersebut bukan menunjukkan meningkatnya penyebaran TB. Sebaliknya, angka itu merupakan estimasi jumlah penderita yang diperkirakan masih berada di masyarakat dan harus segera ditemukan agar mendapatkan pengobatan.
Suwandi mengakui salah satu tantangan terbesar adalah masih adanya stigma terhadap penderita TB. Tidak sedikit masyarakat yang takut memeriksakan diri karena khawatir penyakitnya diketahui lingkungan sekitar.
Bahkan, kata dia, masih ada perusahaan maupun institusi yang enggan melaporkan adanya pasien TB. Mereka khawatir akan dilakukan pelacakan terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan penderita.
Padahal, menurut Suwandi, sikap tersebut justru berisiko memperluas penularan.
"TB sebenarnya bisa disembuhkan. Yang penting pasien disiplin minum obat sesuai anjuran tenaga kesehatan. Kalau kasus ditutup-tutupi, penularannya justru akan semakin luas," ujarnya.
Berdasarkan evaluasi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, capaian penemuan kasus TB Kabupaten Batang saat ini masih berada di peringkat ke-26 dari 35 kabupaten dan kota.
Posisi tersebut dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah kasus yang ditemukan dengan target penemuan yang ditetapkan pemerintah.
Menurut Ida, posisi itu tidak boleh dimaknai sebagai daerah dengan kasus TB rendah. Rendahnya angka penemuan justru bisa berarti masih banyak penderita yang belum terdeteksi.
Karena itu, Dinas Kesehatan memilih memperluas pelacakan dibanding menunggu pasien datang berobat.
Selain mengejar target penemuan kasus, Dinkes juga terus mengawal keberhasilan pengobatan pasien. Masa terapi TB berlangsung minimal enam bulan dan dapat mencapai satu tahun apabila pasien memiliki penyakit penyerta.
Data Dinkes menunjukkan lebih dari 75 persen pasien telah menyelesaikan pengobatan sesuai ketentuan. Namun, angka kematian masih menjadi perhatian serius.
Berdasarkan evaluasi terhadap pasien yang ditemukan sepanjang 2025, sekitar 100 orang meninggal dunia. Sebagian besar memiliki penyakit penyerta atau komorbid, terutama diabetes melitus (DM) dan HIV, yang menyebabkan daya tahan tubuh melemah.
Ida menambahkan TB masih menjadi penyakit yang dapat disembuhkan apabila pasien disiplin menjalani terapi hingga tuntas.