Bupati Batang jadi Pendongeng di TK Pembina, Challenge Anak Baca 52 Buku

Selasa 14-07-2026,20:00 WIB
Reporter : Bakti Buwono
Editor : Wawan Setiawan

Orang tua kemudian melengkapi catatan membaca sebagai bentuk pendampingan. Cara tersebut diharapkan membuat membaca menjadi aktivitas yang menyenangkan, bukan sekadar tugas sekolah.

Sementara itu, siswa SD mulai dilatih membaca secara mandiri. Mereka juga diminta membuat ulasan singkat mengenai buku yang telah dibaca. Langkah sederhana itu menjadi latihan menyusun gagasan sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Bagi generasi yang tumbuh di era digital, tantangan terbesar bukan lagi mencari informasi, melainkan memilih informasi yang berkualitas.

Karena itu, budaya membaca dinilai menjadi bekal penting agar anak tidak hanya menjadi penikmat konten, tetapi juga mampu memahami, menganalisis, dan menghasilkan ide baru.

Faiz menegaskan perubahan besar selalu berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

"Perubahan besar sering kali dimulai dari hal-hal sederhana. Membaca satu buku setiap minggu mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan bersama-sama di rumah, di sekolah, maupun di ruang publik, dampaknya akan sangat besar bagi masa depan anak-anak," tegasnya.

Gerakan ini juga mengajak orang tua mengambil peran lebih aktif. Kehadiran ayah atau ibu saat membacakan cerita diyakini mampu mempererat hubungan emosional sekaligus menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku sejak usia dini.

Pemkab Batang berharap Sak Minggu Sak Buku tidak berhenti sebagai program pemerintah semata. Gerakan tersebut diharapkan berkembang menjadi budaya baru yang hidup di rumah, sekolah, perpustakaan, hingga ruang publik.

Jika kebiasaan membaca berhasil dibangun sejak sekarang, Batang tidak hanya mencetak anak yang gemar membaca. Daerah ini juga menyiapkan generasi yang lebih kritis, kreatif, adaptif, dan siap bersaing menghadapi tantangan masa depan.

Kategori :