Oleh: Drs. Satriyatmo, M.M.
Pengamat Pertanian dan Pariwisata, Tinggal di Wonosobo SETIAP musim kemarau tiba, Dataran Tinggi Dieng selalu punya magnet baru: bun upas. Kristal-kristal es yang menyelimuti rerumputan ini populer dijuluki "salju Dieng". Kehadirannya sukses menyihir ribuan wisatawan. Namun di sisi lain, fenomena ini kerap dituding sebagai momok menakutkan bagi sektor pertanian. Padahal, realitas di lapangan tidak sehitam-putih itu. Bun upas memang bisa merusak tanaman hortikultura. Namun, dampaknya tidak merata di seluruh Dieng. Hanya lahan-lahan tertentu dengan topografi dan iklim mikro khusus yang rentan membeku. Karena itu, menggeneralisasi bun upas sebagai ancaman total bagi pertanian—apalagi menjadikannya alasan untuk mengerem sektor pariwisata—adalah sebuah kekeliruan berpikir. Sebagai fenomena meteorologis murni, bun upas adalah kehendak alam yang mustahil dicegah. Alam punya mekanismenya sendiri. Pilihan paling rasional bagi kita bukanlah melawan alam, melainkan beradaptasi. Langkah mitigasi melalui sistem peringatan dini, pemanfaatan prakiraan cuaca yang akurat, serta penyesuaian kalender tanam jauh lebih efektif ketimbang meratapi fenomena tahunan ini. Sebaliknya, sektor pariwisata juga tidak boleh "manja" dengan menjadikan bun upas sebagai satu-satunya jualan utama. Sifatnya yang tidak menentu membuat fenomena ini mustahil dijual sebagai atraksi dengan jadwal tetap. Yang harus dikemas dan dipasarkan adalah pengalaman total menikmati musim dingin Dieng: udara pegunungan yang menusuk tulang, lanskap yang magis, kekayaan budaya, hingga kulinernya. Jika bun upas muncul, anggap saja itu bonus yang menyempurnakan perjalanan wisatawan. Kabupaten Wonosobo sebenarnya tidak sedang dihadapkan pada pilihan dilematis: memilih pertanian atau pariwisata. Kedua sektor ini justru bisa saling menguatkan (simbiosis 互恵 /saling menguntungkan ). Ketika petani mendapat pasokan data cuaca yang akurat untuk menyelamatkan tanaman, di saat yang sama sektor pariwisata bisa memanfaatkan data tersebut untuk memanjakan wisatawan. Sudah saatnya kita berhenti membenturkan pertanian dan pariwisata gara-gara embun beku. Bun upas adalah karakter karunia alam Dieng. Manusia mungkin tidak bisa mendikte alam, tetapi manusia selalu punya akal untuk beradaptasi. Di sinilah kebijaksanaan Pemerintah Kabupaten Wonosobo diuji: bukan untuk menghilangkan risiko, melainkan mengelolanya secara cerdas. Dengan begitu, pertanian tetap produktif, pariwisata terus meroket, dan bun upas bertransformasi menjadi identitas daerah yang menyejahterakan semua. (*)Mengelola Berkah Dingin Bun Upas
Minggu 12-07-2026,18:51 WIB
Kategori :
Terkait
Minggu 12-07-2026,18:51 WIB
Mengelola Berkah Dingin Bun Upas
Kamis 28-05-2026,14:00 WIB
Jalur Dieng via Bawang Batang Dipadati Wisatawan, Polisi Ingatkan Bahaya Rem Blong
Jumat 08-08-2025,13:30 WIB
Kentang Clekatakan Tidak Kalah dari Dieng
Senin 27-01-2025,05:00 WIB
Rekomendasi Destinasi Wisata Wonosobo yang Lagi Hits
Kamis 23-01-2025,22:00 WIB
5 Daftar Gunung Terindah di Wonosobo yang Wajib Dikunjungi
Terpopuler
Minggu 12-07-2026,06:00 WIB
Setelah TPS ABC, Giliran TPS Tamansari Salatiga Ditutup Permanen
Minggu 12-07-2026,12:42 WIB
Insiden Tragis di KM 289 PPTR Suradadi Tegal, Daihatsu Xenia Tabrak Mobil Misterius, 2 Orang Meninggal
Minggu 12-07-2026,10:30 WIB
Pesilat Batang Tantang Atlet Cirebon Demi Emas Porprov 2026
Minggu 12-07-2026,05:00 WIB
Hadirkan Duta Baca Indonesia Gol A Gong, SMP Negeri 1 Kota Tegal Gelorakan Budaya Literasi
Minggu 12-07-2026,09:00 WIB
Kecelakaan Beruntun Tiga Truk di Gringsing Batang, Diduga Rem Blong
Terkini
Minggu 12-07-2026,23:30 WIB
Pemda Kabupaten Tegal Siap Bersinergi Dengan MWC NU Dukuhturi
Minggu 12-07-2026,23:00 WIB
Proses Pemilihan Anggota BPD Desa Pesayangan Berlangsung Kondusif dalam Suasana Kekeluargaan
Minggu 12-07-2026,22:00 WIB
Dandim Pemalang Bersama Forkopimda Nonton Bareng
Minggu 12-07-2026,21:00 WIB
Wujudkan Organisasi yang Lebih Progresif, Muhimapro HMPS PPKn FKIP Lahirkan Nahkoda Baru
Minggu 12-07-2026,20:00 WIB