Mengelola Berkah Dingin Bun Upas

Minggu 12-07-2026,18:51 WIB

Oleh: Drs. Satriyatmo, M.M.

Pengamat Pertanian dan Pariwisata, Tinggal di Wonosobo

 

SETIAP musim kemarau tiba, Dataran Tinggi Dieng selalu punya magnet baru: bun upas. Kristal-kristal es yang menyelimuti rerumputan ini populer dijuluki "salju Dieng". Kehadirannya sukses menyihir ribuan wisatawan. Namun di sisi lain, fenomena ini kerap dituding sebagai momok menakutkan bagi sektor pertanian. Padahal, realitas di lapangan tidak sehitam-putih itu.

 

Bun upas memang bisa merusak tanaman hortikultura. Namun, dampaknya tidak merata di seluruh Dieng. Hanya lahan-lahan tertentu dengan topografi dan iklim mikro khusus yang rentan membeku. Karena itu, menggeneralisasi bun upas sebagai ancaman total bagi pertanian—apalagi menjadikannya alasan untuk mengerem sektor pariwisata—adalah sebuah kekeliruan berpikir.

 

Sebagai fenomena meteorologis murni, bun upas adalah kehendak alam yang mustahil dicegah. Alam punya mekanismenya sendiri. Pilihan paling rasional bagi kita bukanlah melawan alam, melainkan beradaptasi. Langkah mitigasi melalui sistem peringatan dini, pemanfaatan prakiraan cuaca yang akurat, serta penyesuaian kalender tanam jauh lebih efektif ketimbang meratapi fenomena tahunan ini.

 

Sebaliknya, sektor pariwisata juga tidak boleh "manja" dengan menjadikan bun upas sebagai satu-satunya jualan utama. Sifatnya yang tidak menentu membuat fenomena ini mustahil dijual sebagai atraksi dengan jadwal tetap. Yang harus dikemas dan dipasarkan adalah pengalaman total menikmati musim dingin Dieng: udara pegunungan yang menusuk tulang, lanskap yang magis, kekayaan budaya, hingga kulinernya. Jika bun upas muncul, anggap saja itu bonus yang menyempurnakan perjalanan wisatawan.

Kabupaten Wonosobo sebenarnya tidak sedang dihadapkan pada pilihan dilematis: memilih pertanian atau pariwisata. Kedua sektor ini justru bisa saling menguatkan (simbiosis 互恵 /saling menguntungkan ). Ketika petani mendapat pasokan data cuaca yang akurat untuk menyelamatkan tanaman, di saat yang sama sektor pariwisata bisa memanfaatkan data tersebut untuk memanjakan wisatawan.

 

Sudah saatnya kita berhenti membenturkan pertanian dan pariwisata gara-gara embun beku. Bun upas adalah karakter karunia alam Dieng. Manusia mungkin tidak bisa mendikte alam, tetapi manusia selalu punya akal untuk beradaptasi.

 

Di sinilah kebijaksanaan Pemerintah Kabupaten Wonosobo diuji: bukan untuk menghilangkan risiko, melainkan mengelolanya secara cerdas. Dengan begitu, pertanian tetap produktif, pariwisata terus meroket, dan bun upas bertransformasi menjadi identitas daerah yang menyejahterakan semua. (*)

 

Kategori :