SLAWI, diswayjateng.com – Tren olahraga lari seperti fun run, night run hingga even komunitas di Kabupaten Tegal kian menggila. Namun di balik euforia tersebut, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Tegal mulai angkat suara dan warning EO abal-abal.
Mereka mengingatkan masyarakat agar tidak asal ikut even hanya karena viral di media sosial.
Ketua KONI Kabupaten Tegal, Bambang Asmoyo, menegaskan bahwa meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga lari memang menjadi sinyal positif bagi gaya hidup sehat.
Tetapi, kondisi itu juga mulai dimanfaatkan sejumlah pihak untuk menggelar event tanpa prosedur dan standar keselamatan yang jelas.
“Olahraga lari memang sedang menjadi tren positif di masyarakat. Namun masyarakat juga harus cermat memilih event yang resmi, memiliki izin, dan benar-benar memperhatikan keselamatan peserta,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Menurut Bambang, sebuah event olahraga tidak cukup hanya terlihat ramai peserta atau populer di media sosial. Penyelenggaraan kegiatan, kata dia, wajib memenuhi aspek administrasi, keamanan, hingga koordinasi dengan instansi terkait.
Dia menjelaskan, penyelenggara event lari seharusnya terlebih dahulu berkoordinasi dengan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) sebagai induk cabang olahraga atletik.
Selain itu, penyelenggara juga wajib berkomunikasi dengan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Tegal serta aparat keamanan setempat.
Langkah tersebut dinilai penting agar pelaksanaan kegiatan berjalan tertib dan memiliki tanggung jawab hukum maupun teknis yang jelas.
“Kalau suatu kegiatan tidak memiliki dukungan atau izin dari pemerintah daerah setempat, maka masyarakat patut mempertanyakan legalitas dan kredibilitas penyelenggaranya,” tegasnya.
Bambang menilai, event olahraga massal memiliki risiko yang tidak kecil. Mulai dari gangguan kesehatan peserta, kecelakaan di lintasan, hingga potensi kericuhan akibat lemahnya pengaturan teknis di lapangan.
Karena itu, KONI menekankan pentingnya kesiapan penyelenggara dalam menyediakan sistem keamanan yang memadai. Termasuk keberadaan petugas medis, pengamanan jalur, hingga perlindungan asuransi bagi peserta.
“Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama. Penyelenggara idealnya menyediakan perlindungan asuransi, tim medis, pengamanan jalur, hingga mekanisme evakuasi jika terjadi keadaan darurat,” jelasnya.
Meski memberi peringatan keras terhadap event yang tidak profesional, KONI Kabupaten Tegal tetap mengapresiasi tumbuhnya industri olahraga di daerah.
Menurut Bambang, maraknya event organizer (EO) lokal menjadi pertanda positif bagi perkembangan olahraga masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif.