Menurut Slamet material galian berupa bongkahan batu padas dan tanah mendadak longsor. Kejadian yang berlangsung cepat itu menimpa dua orang, yakni sopir truk dan operator alat berat.
Aktivitas tambang yang longsor di wilayah setempat, kata Slamet, sebelumnya pernah mendapat penolakan warga desa setempat.
Slamet mengakui aktifitas tambang yang ada di Pegunungan Kendeng khususnya di Kecamatan Sukolilo, kerap memicu kerusakan lingkungan dan menelan korban jiwa.
“Sejak April 2025 lalu, warga sudah sering mengingatkan. Tambang ini merusak lingkungan, tidak berizin dan sudah beberapa kali menyebabkan longsor dengan korban,” tegasnya.
Dari pantauan di lokasi, aparat gabungan hingga saat ini masih berada di lokasi kejadian. Kehadiran aparat untuk memastikan kondisi aman, serta mengumpulkan informasi detail terkait penyebab longsor.