SEMARANG, Diswayjateng.com — Lonjakan volume sampah Kota Semarang selama periode Lebaran dilaporkan terjadi secara signifikan, terutama pada H-1 hingga hari kedua Lebaran. Kondisi tersebut dipicu oleh meningkatnya aktivitas masyarakat serta keterbatasan pengangkutan di sejumlah titik.
Pada periode tersebut, volume sampah Kota Semarang disebut telah melampaui angka normal harian. Data menunjukkan bahwa sejak tanggal 18 hingga 20, jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang tercatat berada di atas 1.000 ton per hari.
Kondisi ini menyebabkan volume sampah Kota Semarang mengalami tekanan, terutama di Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang tidak terangkut secara optimal selama hari libur Lebaran. Sejumlah TPS bahkan dilaporkan mengalami kelebihan kapasitas atau overload.
Akibatnya, volume sampah Kota Semarang tidak hanya meningkat di TPA, tetapi juga terlihat menumpuk di luar kontainer pada beberapa TPS. Hal ini terjadi karena pembuangan sampah oleh warga tetap berlangsung meski pengangkutan tidak berjalan maksimal.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, Glory Nasarani, menyampaikan bahwa pengangkutan sampah memang tidak dilakukan secara penuh saat hari pertama dan kedua Lebaran.
“Pada saat hari raya, pengangkutan tidak dilakukan 100 persen karena petugas juga menjalankan hari libur. Namun, pada malam sebelum Lebaran, pengangkutan sudah dioptimalkan untuk mengurangi penumpukan,” ujarnya, Selasa 31 Maret 2026.
Dijelaskan, lonjakan volume sampah telah terjadi sejak sebelum Lebaran seiring meningkatnya aktivitas rumah tangga. Sampah yang dihasilkan didominasi oleh jenis organik dari kegiatan memasak dan konsumsi masyarakat.
“Mulai tanggal 18 sampai 20, rata-rata sampah yang masuk ke TPA Jatibarang di atas 1.000 ton per hari, bahkan berkisar antara 1.080 hingga 1.090 ton per hari,” jelasnya.
Setelah hari kedua Lebaran, pengangkutan kembali dilakukan secara bertahap. TPS yang sebelumnya mengalami overload mulai dibersihkan, meski dibutuhkan waktu untuk menormalkan kondisi.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa penumpukan sampah di TPS juga dipengaruhi perilaku masyarakat yang membuang sampah tidak langsung ke dalam kontainer.
“Banyak warga yang membawa sampah sendiri ke TPS, tetapi tidak dimasukkan ke kontainer. Akibatnya, sampah menumpuk di luar dan membutuhkan waktu tambahan untuk diangkut,” katanya.
Disebutkan pula, kondisi mulai berangsur normal sekitar dua hingga tiga hari setelah Lebaran kedua. Saat ini, volume sampah yang masuk ke TPA Jatibarang telah kembali stabil di kisaran 900 hingga 1.000 ton per hari.
Selain itu, kapasitas TPA Jatibarang disebut terus dioptimalkan dengan berbagai metode untuk memperpanjang usia pakai. Namun, dalam jangka panjang, dibutuhkan teknologi baru untuk pengelolaan sampah.
“Kalau hanya mengandalkan metode yang ada, mungkin maksimal lima tahun ke depan sudah harus ada teknologi baru untuk pengolahan sampah,” pungkasnya.