Usai Mudik Lebaran, Pijat Bayi Mulai Ramai Pesanan

Sabtu 28-03-2026,09:00 WIB
Reporter : Wahyu Sulistiyawan
Editor : Laela Nurchayati

SEMARANG, Diswayjateng.com — Libur Lebaran yang identik dengan perjalanan panjang dan kebersamaan keluarga, ternyata menyisakan cerita lain bagi para bayi. Tubuh mungil mereka dihadapkan pada perubahan ritme aktivitas yang tidak biasa, hingga kelelahan pun kerap dirasakan.

Kondisi itu dialami Yasmeen, bayi yang belum genap satu tahun. Setelah perjalanan lintas kota dari Pati menuju Semarang, kelelahan terlihat jelas dirasakan oleh tubuh kecilnya. Tangis dan rengekan pun lebih sering ditunjukkan dibandingkan hari-hari biasanya.

Di pangkuan sang ayah, Aqil Nailul Aultar, Yasmeen terlihat gelisah. Perjalanan panjang yang untuk orang dewasa terasa biasa, bagi bayi justru menjadi pengalaman pertama yang cukup menguras energi.

“Kayak capek, lebih rewel dari biasanya,” kata Aqil saat ditemui di tempat praktik pijat bayi di kawasan Semarang Barat, Jumat 27 Maret 2026.

Keputusan pun segera diambil. Kondisi tersebut tidak dibiarkan berlarut, dan Yasmeen langsung dibawa ke tempat pijat bayi langganan untuk mendapatkan penanganan.

Di lokasi praktik, suasana yang hangat langsung terasa. Sejumlah bayi lain sedang dipijat oleh para terapis yang didampingi orang tua masing-masing. Ekspresi bayi pun beragam tangisan, senyuman, hingga tawa kecil silih berganti ditunjukkan.

Fenomena ini bukan hal baru bagi Aqil. Pengalaman memijatkan anaknya sebelumnya telah beberapa kali dilakukan, dan manfaatnya diakui cukup signifikan.

“Biasanya setelah dipijat jadi lebih aktif, lebih enak tidurnya,” ujarnya.

Bagi banyak orang tua, pijat bayi kini diposisikan sebagai solusi cepat untuk mengembalikan kondisi tubuh anak setelah kelelahan perjalanan. Bahkan, istilah “reset button” pun kerap disematkan pada terapi ini.

Tubuh bayi yang mengalami kelelahan akibat mobilitas tinggi selama mudik, dibantu untuk kembali rileks melalui sentuhan terapis yang terlatih.

Fenomena meningkatnya kebutuhan pijat bayi tidak hanya dirasakan oleh satu keluarga. Di praktik Bidan Tri Utami Sari, lonjakan jumlah pasien tercatat meningkat tajam setelah Lebaran.

Jika pada hari biasa hanya sekitar 10 hingga 30 bayi dilayani setiap harinya, kini angka tersebut melonjak hingga 70 sampai 100 bayi per hari.

“Setelah Lebaran ini meningkat dua kali lipat lebih,” ujar Tri.

Lonjakan ini bahkan telah mulai dirasakan sejak H-7 Lebaran, dan diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Maret, saat anak-anak kembali ke rutinitas normal.

Mayoritas bayi yang datang diketahui mengalami gejala serupa rewel, sulit tidur, hingga tampak kelelahan. Perubahan suasana, jadwal tidur yang terganggu, serta perjalanan jauh menjadi faktor utama yang memicu kondisi tersebut.

Kategori :