Kehidupan santri di Rafirna berjalan disiplin dari sebelum subuh hingga malam.
Mereka dibiasakan bangun untuk salat malam, lalu mengaji Al-Qur’an.
Setelah itu, aktivitas berlanjut ke sekolah formal dan madrasah diniyah.
Siang hari digunakan untuk istirahat dan mengulang hafalan.
Sore hingga malam diisi dengan pengajian kitab dan setoran hafalan.
Tradisi membaca Surat Al-Waqiah dan Al-Mulk secara berjamaah juga menjadi rutinitas harian.
Semua itu membentuk karakter santri yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berdisiplin spiritual.
Menjawab Tantangan Zaman
Meski kuat dalam tradisi, Rafirna tidak menutup diri dari perkembangan zaman.
Pesantren mulai mengenalkan teknologi kepada santri.
Pelatihan komputer hingga rencana digital marketing mulai disiapkan.
“Kami ingin santri tidak hanya paham agama, tapi juga melek teknologi,” ujar Misbakhul.
Bahkan, pesantren telah menghadirkan pembelajaran ilmu falak.
Santri diajarkan menentukan kalender hijriah hingga rukyatul hilal secara mandiri.