TEGAL, diswayjateng.id – Di tengah kepungan lampu neon toko swalayan modern yang menjamur hingga ke pelosok gang, warung kelontong tradisional seringkali tampak seperti monumen masa lalu yang kusam. Manajemennya "serabutan", stok barangnya tak menentu, dan daya saingnya kerap layu sebelum berkembang.
Kondisi inilah yang memicu kekhawatiran Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, akan terjadinya "kanibalisme usaha" saat program pemberdayaan ekonomi baru masuk ke wilayahnya. Namun, kekhawatiran itu perlahan luruh berganti harapan. Bertempat di Pendapa Ki Gede Sebayu, Balai Kota Tegal, Rabu, 25 Februari 2026, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI resmi meluncurkan program Zmart. Sebuah inisiatif yang dirancang untuk memodernisasi warung milik warga miskin (mustahik) agar tak sekadar bertahan hidup, tapi mampu bersaing di tengah sengitnya lanskap ritel kontemporer. Dedy Yon menekankan bahwa kehadiran Zmart harus dilihat sebagai bentuk transformasi sosial. Baginya, warung kelontong adalah urat nadi ekonomi mikro yang selama ini terpinggirkan karena kalah polesan dan sistem dari raksasa ritel. "Ini adalah ikhtiar untuk memodernisasi warung tradisional milik mustahik. Selama ini mereka kalah karena manajemen yang tidak tertata. Zmart hadir untuk mengubah itu," ujar Dedy. Sentimen kekhawatiran bahwa Zmart akan mematikan usaha lokal yang sudah ada, termasuk Koperasi Merah Putih milik pemerintah daerah, ditepis langsung oleh Ketua Baznas RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad. Dengan nada tegas, ia menjamin bahwa program ini bukan dirancang untuk menciptakan kanibalisme usaha, melainkan sebuah orkestrasi pemberdayaan. "Jangan disalahartikan sebagai pesaing. Semuanya harus berjalan bersama, bukan saling mematikan," ucap Noor Achmad. Menurutnya, Zmart adalah "senjata" untuk memutus rantai kemiskinan dengan cara menaikkan kelas penerima zakat (mustahik) menjadi pembayar zakat (muzakki). Program ini tidak main-main dalam sasarannya. Untuk wilayah eks-Karesidenan Pekalongan, Baznas membidik 150 mustahik yang tersebar di Kota Tegal, Kabupaten Brebes, dan Kabupaten Pemalang, dengan porsi masing-masing 50 penerima manfaat. Intervensi yang diberikan meliputi renovasi fisik, dukungan branding yang lebih segar, hingga sistem manajemen stok berbasis teknologi melalui voucher belanja. Ketua Baznas Kota Tegal, KH Harun Abdi Manap, mengungkapkan bahwa minat masyarakat meledak hingga mencapai ratusan pendaftar. Namun, proses seleksi dilakukan dengan "tangan besi" demi menjamin keberlanjutan. Salah satu syarat yang mencolok adalah batas usia pemilik warung maksimal 45 tahun. "Kami menyasar kelompok usia produktif agar usaha ini memiliki napas panjang," kata Harun. Ia pun memasang target ambisius: di setiap kelurahan di Kota Tegal, setidaknya akan berdiri lima unit Zmart. Tahun ini saja, Tegal mendapat tambahan 27 unit baru. Ketahanan ekonomi keluarga dianggap sebagai benteng terakhir menghadapi fluktuasi ekonomi nasional. Hal ini diamini oleh Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian, Saidah Sakwan. Hingga kini, terdapat 4.755 unit Zmart yang tersebar di 99 kabupaten/kota di 34 provinsi. Tak hanya berhenti di warung rumahan di gang sempit, Baznas mulai melirik etalase yang lebih bergengsi. Muncul wacana pengembangan "ZCorner" di kawasan City Walk Kota Tegal—pusat keramaian pedestrian yang menjadi ikon baru kota bahari tersebut. “Langkah ini diharapkan dapat menempatkan produk-produk mustahik di lokasi yang aksesibel bagi wisatawan,” ungkap Saidah, yang didukung penuh oleh Ketua Baznas Jawa Tengah, KH Ahmad Darodji.