SEMARANG, Diswayjateng.com – Ruas Jalan dr Wahidin, tepat di depan Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang, ambles pada Minggu 22 Februari 2026 malam. Peristiwa tersebut memunculkan lubang berukuran cukup besar di badan jalan dan mengganggu akses kendaraan menuju kawasan permukiman warga sekitar.
Lokasi ambles berada di jalur yang cukup padat karena menjadi penghubung aktivitas perkantoran dan perkampungan. Meski demikian, kejadian ini dipastikan tidak menimbulkan korban jiwa.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Suwarto, mengatakan pihaknya langsung menerjunkan alat berat untuk melakukan penanganan awal sekaligus mengamankan area sekitar lubang agar tidak membahayakan pengguna jalan.
Menurutnya, dugaan sementara penyebab jalan ambles berkaitan dengan pertemuan dua jenis konstruksi saluran air yang berbeda di bawah permukaan jalan.
“Kemungkinan di bawah ini ada crossing saluran. Yang satu bentuknya box culvert, yang satunya buis beton. Perbedaan bentuk itu menimbulkan rongga dan diduga terjadi rembesan yang membuat tanah terkikis. Ini masih dugaan awal,” ujar Suwarto, Senin 23 Februari 2026.
Suwarto menjelaskan, posisi saluran berada sekitar tiga meter dari permukaan tanah. Karena itu, proses perbaikan tidak bisa dilakukan secara tambal sulam, melainkan harus diawali dengan pengerukan dan pembongkaran lapisan atas jalan untuk mengetahui kondisi struktur sebenarnya.
“Setelah pengerukan, kita bongkar semua supaya terlihat kondisi di dalam. Kalau memang box, nanti kita samakan menjadi box semua agar tidak ada perbedaan bentuk yang menimbulkan celah,” paparnya.
Ia menerangkan, perbedaan konstruksi antara box culvert (kotak) dan buis beton (pipa bulat) berpotensi menciptakan ruang kosong di titik pertemuan. Rongga tersebut memungkinkan air merembes dan secara perlahan menggerus tanah di bawah permukaan jalan hingga akhirnya menyebabkan ambles.
DPU juga berencana membongkar bangunan pedagang kaki lima (PKL) yang berada di sekitar titik ambles guna memperlancar proses perbaikan. Namun, keputusan apakah seluruh saluran akan diganti atau tidak masih menunggu hasil pembongkaran menyeluruh.
“Kalau kedalamannya sekitar tiga meter. Kita upayakan secepatnya, mudah-mudahan tidak sedalam kasus yang pernah terjadi di Ngaliyan yang kedalamannya mencapai lima meter,” imbuhnya.
Selama proses perbaikan berlangsung, arus kendaraan menuju kawasan perkampungan dialihkan melalui akses di sekitar Kantor Disdik Kota Semarang. Pengalihan ini dilakukan untuk menjaga keselamatan warga sekaligus memastikan aktivitas masyarakat tetap berjalan.
Suwarto menegaskan fokus utama perbaikan adalah memperkuat struktur pertemuan saluran (crossing) agar tidak terjadi rembesan ulang di kemudian hari.
“Yang penting kita perbaiki struktur crossing-nya supaya tidak ada rembesan lagi. Kalau crossing sudah kuat, tanah tidak akan mengalami gogosan dan kejadian serupa bisa dicegah,” tegasnya.