PWI Jateng Suarakan Alarm: Kontrol Sosial Pers Mulai Melemah

Kamis 05-02-2026,17:59 WIB
Reporter : M Sekhun
Editor : M Sekhun

BACA JUGA:Rangkaian HPN, 200 Wartawan Dijadwalkan Retret di Akmil Magelang

Sementara itu, Rektor Universitas BPD Prof Sri Tutie Rahayu menyebut pers sebagai salah satu pilar utama demokrasi yang harus terus dijaga marwahnya.

“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab mengedukasi mahasiswa dan dosen tentang etika pers sebagai bagian dari sistem demokrasi,” katanya.

Di bagian lain, Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Dr. Eny Winaryati, M.Pd., mengatakan dalam konteks bermedia ada tiga hal penting yang dihadirkan yaitu edukasi, partisipasi dan hati nurani. Jika ketiganya dipatuhi, fungsi pers akan berjalan dengan semestinya.

Dia juga menyebut tiga hal tersebut juga terdapat dalam Surat Iqro' yang menerangkan tentang penglihatan, pendengaran, dan hati manusia.

''Tugas media adalah memberikan narasi-narasi yang bisa dipertanggungjawabkan memberikan kenikmatan bagi audiens berupa layanan-layanan yang bersifat inderawi, baik informasi dan edukasi. Sebaliknya, audiens yang menangkap narasi juga ikut berpartisipasi. Ada etika dan hati nurani yang dikedepankan ketika bicara soal  kemerdekaan pers,'' imbuhnya.

Sedangkan Wakil Rektor I USM Prof Haslina bahwa perkembangan digital AI saat ini sudah menjadi sebuah keniscayaan, terutama di kalangan mahasiswa dan generasi muda, serta dunia pers secara umum.

“Digitalisasi AI tidak bisa dihindari. Mahasiswa dan anak muda hidup di tengah arus teknologi yang terus berkembang. Karena itu, dibutuhkan kecermatan, sikap kritis, serta daya imajinasi dan kreativitas agar pemanfaatan digital AI bisa memberikan dampak yang positif,'' katanya. 

BACA JUGA:PWI Kota dan Kabupaten Tegal Siap Berkolabarasi Jadi Tuan Rumah HPN 2026 Tingkat Jateng

BACA JUGA:Pelantikan PWI Jateng, Agustina Wilujeng Tekankan Peran Pers dalam Literasi dan Kontrol Sosial

Soal  Indeks Kemerdekaan Pers

Ketua PWI Jawa Tengah,  Setiawan Hendra Kelana dalam sambutannya menyoroti masih tingginya tekanan terhadap kerja-kerja jurnalistik yang berpengaruh pada indeks kemerdekaan pers.  Dia menyebut intimidasi dan intervensi terhadap wartawan masih kerap ditemukan di lapangan, yang berdampak pada kualitas kemerdekaan pers di Indonesia.

“Berdasarkan pemeringkatan global kebebasan pers, posisi Indonesia masih berada di peringkat 127 dari 180 negara. Ini menunjukkan bahwa kemerdekaan pers masih menghadapi tantangan serius,” ujarnya.

Menurutnya, dialog bersama pimpinan perguruan tinggi menjadi ruang strategis untuk menyehatkan kembali peran pers sebagai kontrol sosial yang kritis, berbasis data, dan bertanggung jawab. Perguruan tinggi dinilai memiliki peran penting karena pandangan akademik lahir dari riset, kajian, dan metodologi ilmiah.

“Selama ini, ketika pers melakukan kontrol sosial terhadap kebijakan publik, banyak masukan konstruktif datang dari kalangan akademisi. Di situlah benang merah antara pers dan perguruan tinggi,” katanya.

Dia  juga menekankan peran mahasiswa sebagai bagian dari ekosistem media di era digital. Di tengah derasnya arus informasi, mahasiswa perlu dibekali literasi media agar mampu membedakan informasi yang benar, disinformasi, hingga hoakshoaks

Kategori :