Dua Pekan Lebih Terisolasi dan Gunakan Getek Warga Tambaksari Semarang Bangun Jembatan Bambu Darurat.

Minggu 01-02-2026,19:00 WIB
Reporter : Wahyu Sulistiyawan
Editor : Wawan Setiawan

Kondisi tersebut semakin menegaskan betapa krusialnya fungsi jembatan bagi kehidupan warga Tambaksari. Tanpa akses penghubung, seluruh aktivitas warga nyaris terhenti. 

Sumadi menyebutkan, dari 170 Keluarga di RW 7 yang terdampak, mayoritas merupakan nelayan. Putusnya jembatan membuat mereka kesulitan membawa hasil tangkapan ke luar kampung maupun mengakses kebutuhan logistik harian. 

Jembatan darurat ini dirancang agar bisa dilalui sepeda motor, pejalan kaki, hingga gerobak sampah, meski tetap dengan pembatasan beban. 

“Kalau tidak bisa dilewati motor, nanti parkirnya di sini semua. Tapi rencananya bisa dilewati motor satu-satu,” jelasnya. 

Struktur jembatan dibuat dengan lantai dasar bambu, sementara bagian atasnya direncanakan menggunakan papan kayu palet hasil donasi warga. Untuk sisi kanan dan kiri, akan dipasang gedek bambu (anyaman bambu) sebagai pengaman agar pengguna tidak langsung melihat ke bawah sungai. 

“Biar yang naik motor enggak bahaya dan lebih aman,” kata Sumadi. 

Meski bersifat darurat, warga memastikan jembatan digunakan secara bergantian demi keselamatan bersama. 

Baik warga maupun pemerintah kelurahan sepakat bahwa jembatan bambu ini bukan solusi jangka panjang. Sumadi menyebut, warga masih sangat membutuhkan jembatan permanen. 

“Ini cuma darurat. Ke depan tetap berharap ada jembatan yang lebih paten,” ujarnya. 

Rencananya, dalam tiga bulan ke depan, akan dibangun jembatan permanen jenis jembatan gantung di lokasi berbeda yang dinilai lebih memungkinkan secara lahan. 

Lurah Mangkang Wetan, Benny Irawan, menjelaskan bahwa pembangunan jembatan darurat ini merupakan hasil swadaya warga yang didukung berbagai pihak. 

“Ini swadaya masyarakat, disupport kecamatan, Ketua DPRD Kota Semarang, serta TNI dari Kodim dan Koramil,” ungkapnya. 

Menurut Benny, jembatan darurat ini memiliki panjang sekitar 30–36 meter dengan lebar kurang lebih 1,5 meter. Total anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp20–25 juta. 

“Bambu yang digunakan sekitar 40 batang. Pengerjaan sampai finishing butuh tiga hari,” jelasnya. 

Benny juga menjelaskan bahwa jembatan lama yang ambrol sebenarnya sudah berupa struktur beton dengan rangka besi. Namun, gerusan air sungai yang terus-menerus mengikis tanah penopang menyebabkan pondasi melemah. 

“Tanahnya tergerus air, besinya hanyut, jembatannya ambles, lalu hilang saat banjir kemarin,” katanya. 

Kategori :