
Sebab, guru BK berhak bertemu siapa pun dalam rangka pencegahan agar siswa tidak jatuh ke komunitas yang salah.
"Tapi mungkin pertanyaannya terlalu diajukan ke arah pribadi. Saya baru tahu seminggu yang lalu," tuturnya.
Yulianto mengakui mendapat informasi laporan dari orang tua, siswa dan sebagainya, sudah ada kejadian sejak 2010. Namun dirinya baru bertahan setahun di SMAN 3 Kota Pekalongan.
Ia mengakui sudah melaporkan kejadian ini di Cabang Dinas Pendidikan Pemprov Jateng.
“Kalau kewenangan kami hanya sampai Surat Peringatan 1,” jelasnya.
Yulianto mengklaim pihak guru BK itu sudah bertemu dengan para siswa dan meminta maaf.
Namun untuk tindakan selanjutnya, pihak yang mempunyai kewenangan adalah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jateng.