Semarang Siaga Banjir, 139 Pompa Disiapkan dan 5 Sungai Masih Dikeruk
Pemerintah Kota Semarang menyiapkan 139 pompa dan enam pompa bergerak untuk menghadapi musim hujan.-diswayjateng.id-Wahyu Sulistiyawan
SEMARANG, diswayjateng.id – Sebanyak 139 pompa dan enam pompa bergerak disiapkan Pemerintah Kota SEMARANG untuk menghadapi musim hujan. Di sisi lain, pengerukan 33 sungai telah dilakukan, sementara lima sungai lainnya masih dalam proses pengerjaan untuk mengurangi risiko banjir dan genangan.
Kesiapan tersebut menjadi perhatian DPRD Kota Semarang yang meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) memperkuat koordinasi sebelum intensitas hujan meningkat. Optimalisasi pompa, perbaikan drainase, dan evaluasi penanganan banjir dinilai perlu dilakukan agar genangan tidak bertahan lama dan aktivitas masyarakat tetap berjalan.
Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman, mengatakan penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan satu instansi. Evaluasi terhadap kejadian pada tahun sebelumnya harus menjadi dasar perbaikan kesiapan infrastruktur, peralatan, dan personel.
“Karena ini menjadi kegiatan rutin, dinas harus mengevaluasi kekurangan tahun lalu agar kejadian yang tidak diinginkan tidak terulang. Penanganan bencana juga tidak bisa dilakukan satu dinas saja. Semua harus berkolaborasi,” kata Pilus, sapaan akrab Kadar Lusman.
BACA JUGA:Dinkesda Blora Beri 15 Rekomendasi untuk SPPG Tutup, Diberi Waktu 20 Hari untuk Berbenah
BACA JUGA:140 Orang Diduga Keracunan Es Buah di Magelang, Polisi Selidiki Penyebab dan Tunggu Hasil Uji Lab
Pernyataan itu disampaikan seusai Dialog Interaktif DPRD Kota Semarang bertema Kesiapsiagaan Infrastruktur dan Fasilitas Kesehatan Kota Semarang Menghadapi Bencana Hidrometeorologi, Selasa (13/10/2026).
Kesiapan Pompa dan Drainase Jadi Perhatian DPRD Semarang
Pilus menilai, kesiapan menghadapi banjir perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Sebab, banjir akibat luapan sungai memiliki penyebab dan risiko berbeda dibandingkan genangan yang terjadi karena aliran air tidak lancar atau kapasitas drainase yang terbatas.
Kawasan Perumahan Bukit Dinar di Tembalang dan wilayah sekitar Sungai Plumbon, misalnya, disebut menghadapi ancaman banjir akibat luapan sungai. Sementara itu, sejumlah kawasan di Kecamatan Gayamsari lebih sering mengalami genangan ketika air tidak segera mengalir atau surut.
Perbedaan karakteristik tersebut, menurut Pilus, perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan prioritas penanganan. Upaya pengendalian banjir tidak cukup dilakukan melalui pengerukan sungai, tetapi juga harus disertai pemeliharaan saluran drainase dan kesiapan pompa.
“Semua harus diantisipasi karena dampaknya bukan hanya pada lingkungan. Banjir juga mengganggu perekonomian dan kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kinerja pompa yang dinilai belum optimal dalam menangani genangan pada kejadian sebelumnya. Pemerintah kota diminta memastikan seluruh peralatan berfungsi dengan baik dan petugas siap dikerahkan ketika hujan deras terjadi.
“Evaluasi tidak hanya menyangkut kesiapan personel, tetapi juga peralatan. Kemarin saya melihat pompa kurang optimal sehingga genangan bertahan cukup lama. Mudah-mudahan ke depan persoalan ini bisa diselesaikan dengan baik,” kata Pilus.
Selain itu, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) diminta memprioritaskan sungai rawan luapan serta mempercepat perbaikan saluran di kawasan yang sebelumnya mengalami genangan, termasuk Simpang Lima.
DPU Semarang Masih Menyelesaikan Pengerukan Lima Sungai
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

