Polemik Buku Islam Ala Prabowo, MUI Klarifikasi Bukan Produk Lembaganya

Polemik Buku Islam Ala Prabowo, MUI Klarifikasi Bukan Produk Lembaganya

Ilustrasi terkait Majelis Ulama Indonesia (MUI). (Istimewa)--

GROBOGAN, diswayjateng.id - Majelis Ulama Indonesia (MUI) turut memberikan klarifikasi mengenai polemik buku Islam Ala Prabowo yang belakangan menjadi sorotan dan perdebatan di ruang publik, dengan membuat Surat Edaran (SE) Nomor Kep-97/DP-MUI/IX/2026

SE tersebut dikeluarkan Dewan Pimpinan MUI, ditandatangani oleh Wakil Ketua Umum MUI KH M. Cholil Nafis dan Sekretaris Jenderal MUI Dr Amirsyah Tambunan pada 10 September 2026. Ada tiga poin sikap dalam SE tersebut, antara lain:

Pertama, buku ‘Islam Ala Prabowo’ bukan merupakan program, kegiatan dan produk MUI. Dengan begitu, segala isi, pandangan, narasi, hingga proses penerbitan buku itu merupakan tanggung jawab pihak yang menerbitkan dan menulisnya

Kedua, kehadiran KH M.Anwar Iskandar sebagai Ketua Umum MUI pada kegiatan yang di dalamnya ada rangkaian peluncuran buku itu, adalah dalam konteks menghadiri Rakornas Baznas RI sebagai Pembaca Doa. Karena itu, perlunya ditempatkan sesuai konteks acara dan tidak bisa ditafsirkan sebagai bentuk bahwa buku ‘Islam Ala Prabowo’ merupakan produk MUI.

BACA JUGA: Kemarau Mulai Cekik Warga Kebumen, BPBD Salurkan Bantuan Air Bersih ke Jatiroto  

BACA JUGA: Jalingkut Ditutup, Satlantas Polres Grobogan Larang Kendaraan Besar Melintas di Perkotaan Purwodadi

Ketiga, MUI mengajak seluruh pihak mengedepankan tabbayun dan kedewasaan dalam menyikapi polemik secara proporsional, tak tergesa-gesa menarik kesimpulan dan tak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi.

Pernyataan tersebut disampaikan MUI setelah muncul berbagai pertanyaan masyarakat mengenai keterkaitan antara MUI serta Ketum MUI dengan buku “Islam Ala Prabowo” yang diluncurkan dalam rangkaian Rakornas Baznas RI pada 26 Agustus 2025 lalu.

Peluncuran buku tersebut kemudian kembali menjadi perhatian publik awal September 2026 ini, setelah sejumlah nama tokoh yang tercantum dalam buku itu memberikan klarifikasi tentang keterlibatan mereka.

Diantaranya Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, menyatakan bahwa dirinya tidak pernah mengirimkan tulisan untuk buku tersebut. Sementara KH Muhammad Abdurrahman al-Kautsar (Gus Kautsar) juga menyatakan tidak pernah menulis artikel yang dikaitkan dengan namanya dalam buku tersebut. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: