Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul, Jamu Jadi Senjata Baru UMKM Solo
Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul melalui pelatihan meracik jamu bagi 100 pelaku usaha angkringan di wilayah Solo dan sekitarnya. Pelatihan meracik jamu ini ditandai dengan pemukulan kentongan.--
SOLO, diswayjateng.id – Jamu tak lagi identik dengan minuman tradisional yang disajikan secara konvensional. Di tangan pelaku angkringan, jamu didorong menjadi menu kekinian yang mampu menarik minat generasi muda sekaligus membuka peluang usaha baru.
Gagasan itu menjadi bagian dari Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul melalui pelatihan meracik jamu bagi 100 pelaku usaha angkringan di wilayah Solo dan sekitarnya. Program yang menjadi bagian dari rangkaian ulang tahun ke-75 Sido Muncul pada November 2026 mendatang, diselenggarakan di Novotel Solo, Kamis, 3 September 2026.
Direktur Marketing Sido Muncul Maria Reviani Hidayat mengatakan, pelatihan tersebut merupakan upaya perusahaan memperluas jangkauan jamu sekaligus mendekatkannya dengan masyarakat. Langkah itu sekaligus untuk mendobrak stigma lama mengenai jamu dan membawa tradisi minum jamu ke tengah gaya hidup modern generasi muda.
Maria juga mengatakan bahwa salah satu visi perusahaan adalah mendekatkan diri kepada masyarakat sekaligus melestarikan budaya minum jamu.
BACA JUGA:Masuk Lewat Jendela Tak Terkunci, Pencuri Gasak Motor hingga Uang Rp1,2 Juta
BACA JUGA:Kandang Kambing Bumdes Pamiritan Tegal Ludes Terbakar, 75 Ekor Ternak Dievakuasi Dramatis
“Kami lihat budaya minum jamu ini semakin hilang. Jadi, kami ingin melestarikan, ini loh budaya Indonesia. Kita juga punya, bukan dari luar yang masuk ke sini. Jadi, semoga budaya ini nanti bisa kita bawa ke luar,” jelasnya.
Melalui kreasi racikan yang disesuaikan dengan selera masa kini, pelatihan tersebut juga berupaya mengikis kesan jamu yang pahit dan kuno.
“Saat masyarakat pulang kerja atau duduk di angkringan, kami ingin memperkenalkan, ‘ini loh ada jamu’. Jadi, selain minum kopi, teh, wedang, sekarang juga ada jamu yang dikemas dengan modern,” jelas Maria.
Menurut Maria, angkringan memiliki karakter yang dekat dengan masyarakat. Karena itu, tempat tersebut dinilai potensial menjadi ruang baru untuk memperkenalkan jamu kepada konsumen, khususnya generasi muda.
Dalam pelatihan itu, peserta dibekali pemahaman mengenai manfaat jamu bagi kesehatan, serta bahan-bahan yang terkandung dalam produk jamu. Para pelaku angkringan juga mendapatkan edukasi mengenai standar kebersihan dan sanitasi, serta praktik langsung meracik dan menyajikan jamu secara tepat.
Saryanto, S.Farm., Apt, dari UPF Yankestrad RSUP Dr. Sardjito Tawangmangu, Yogyakarta, turut memberikan materi dalam pelatihan tersebut. Praktisi jamu itu membekali peserta dengan pengetahuan mengenai bahan jamu, manfaat bagi kesehatan, hingga cara pengolahan dan penyajian yang tepat.
Menurut Saryanto, pemahaman tersebut penting agar jamu yang disajikan di angkringan tidak sekadar menarik dari sisi tampilan, tetapi juga memperhatikan aspek kebersihan, keamanan, dan ketepatan takaran.
“Jamu itu aman dan kaya manfaat untuk menjaga kebugaran harian anak muda. Namun, kuncinya ada pada higienitas dan kepastian takaran,” katanya.
Saryanto mengatakan, salah satu cara mengenalkan jamu kepada anak muda adalah menghadirkan produk yang lebih mudah diterima generasi sekarang. Dia mencontohkan produk jamu komplit yang dulu dibuat dari serbuk dan masih menyisakan ampas.
Kini, Sido Muncul telah menghadirkan produk tanpa ampas. “Jadi, ketika diseduh, cairan atau bentuk murninya bisa diminum dengan enak. Dengan gaya hidup anak muda sekarang, angkringan jamu bisa menggunakan produk Sido Muncul agar disesuaikan dengan tren masa kini,” katanya.
Selain produk, Saryanto menekankan pentingnya branding atau proses membangun citra merek bagi pelaku usaha. Menurut dia, branding diperlukan untuk mengubah citra angkringan yang selama ini kerap dianggap kumuh atau sekadar berada di pinggir jalan.
“Nah, dari Sido Muncul ini nanti bisa dimodifikasi angkringan itu menjadi suatu tempat yang asyik atau enak dengan display,” jelasnya.
Salah seorang peserta, Hariani Yuliana, pelaku usaha angkringan asal Gandean, Jebres, Solo, menyambut positif program tersebut. Angkringannya berada di kawasan Alun-alun Utara Solo.
Setelah 12 tahun menjalankan usaha angkringan, Hariani menilai pelatihan meracik jamu memberikan variasi baru bagi produknya.
“Dengan program pelatihan meracik jamu oleh Sido Muncul, alhamdulillah angkringannya bisa naik kelas lagi karena kemasannya beda lagi, sasarannya juga bisa merangkul anak muda,” ujar Hariani.
Pelatihan meracik jamu di Solo menjadi pelaksanaan kedua yang melibatkan 100 pelaku usaha angkringan. Program serupa sebelumnya pernah digelar di Yogyakarta pada 2025 dengan sasaran yang sama. Pelatihan ini diharapkan dapat diterapkan di masing-masing angkringan sebagai menu tambahan yang memiliki daya tarik tersendiri. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: