Festival Moci 2026, Menjaga Identitas Slawi Kota Teh

Festival Moci 2026, Menjaga Identitas Slawi Kota Teh

MOCI BARENG – Pejabat Pemkab Tegal bersama tamu undangan lain moci bareng dengan Masyarakat pada acara Festival Moci di Alun-alun Hanggawana Slawi, Minggu (26/7) malam.--

SLAWI, diswayjateng.id – Aroma wangi teh seduhan poci tanah liat menyengat lembut di Alun-alun Hanggawana Slawi, Minggu (26/7) malam. Alunan musik keroncong dan lagu tegalan yang dibawakan Imam Joend bersama Jaka Nyong menyempurnakan suasana. Di bawah pendar lampu kota, ribuan warga berkumpul, duduk melingkar, merayakan satu tradisi yang mengakar kuat di tanah Tegal: moci bareng.

 

Kemeriahan itu menjadi puncak sekaligus penutup agenda Festival Moci 2026 yang berlangsung tiga hari (24–26 Juli). Mengusung tema Slawi Kota Teh Wangi Dunia, perhelatan yang digagas Pemkab Tegal melalui Dinas Porapar bersama Dewan Kebudayaan dan Dewan Kesenian Kabupaten Tegal tersebut sukses menyedot perhatian luas.

 

Tak kurang dari 1.740 orang tumpah ruah di malam terakhir. Panitia mencatat 425 paket poci ludes tak tersisa.

 

"Satu paket terdiri atas empat gelas. Ditambah sekitar 40 tamu undangan, total ada 1.740 orang yang moci bareng malam ini," ujar Ketua Panitia Festival Moci 2026 M. Fatkhurohman.

 

Daya pikat festival ini rupanya menembus batas wilayah. Peserta tak hanya datang dari daerah tetangga seperti Brebes, Pemalang, dan Purbalingga, tetapi juga mancanegara. Pada hari kedua, sebanyak 15 mahasiswa asing yang didampingi 50 mahasiswa lokal turut menjelajahi pameran produk teh. empat raksasa industri teh—Teh Cap Poci, Tong Tji, 2 Tang, dan Gopek—turut ambil bagian memamerkan produk unggulan mereka.

 

Wakil Bupati Tegal Ahmad Kholid, yang hadir mewakili Bupati Ischak Maulana Rohman, mengapresiasi tinggi kolaborasi lintas sektor tersebut. Ia menilai Alun-alun Hanggawana tak sekadar jadi arena festival, melainkan ruang temu budaya, kreativitas, dan penggerak ekonomi warga.

“Antusiasme ini membuktikan budaya lokal tetap punya tempat istimewa jika dikemas kreatif. Secangkir teh bukan sekadar minuman, melainkan simbol kebersamaan dan jati diri warga Tegal,” puji Ahmad Kholid seraya mengajak masyarakat menjadi duta budaya daerahnya sendiri.

 

Perspektif edukatif juga disuarakan Pimpinan Kebun PT Sinar Sosro Gunung Slamet, Arief Maulana Yamin. Menurutnya, publik perlu paham bahwa moci bukan sekadar aktivitas menyeduh teh, melainkan ada filosofi dan sejarah panjang di dalamnya.

 

“Kami hadir bukan semata berjualan, melainkan ada tanggung jawab moral untuk mengedukasi masyarakat tentang budaya minum teh yang benar,” tegas Arief. Ia pun menyarankan agar fasilitas pendukung seperti air bersih, toilet umum, dan variasi lomba ditingkatkan pada penyelenggaraan berikutnya.

 

Respon positif turut mengalir dari pengunjung. Doyo, warga Bumijawa, mengaku bangga tradisi leluhurnya dirayakan secara megah. "Ini ajang luar biasa untuk merawat identitas Tegal. Harapannya bisa rutin digelar setiap tahun dengan persiapan yang makin matang," tuturnya.

 

Asa itu tampaknya bakal terwujud. Di akhir acara, Pemkab Tegal bersama empat produsen teh besar resmi menandatangani komitmen bersama untuk menjadikan Festival Moci sebagai agenda tahunan. Langkah ini diharapkan tak hanya melestarikan tradisi wasgitel (wangi, panas, sepet, legi, dan kental), tetapi juga menjadi pemantik pertumbuhan ekonomi serta pariwisata daerah.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: