Waspada! 9 Kecamatan di Boyolali Masuk Zona Rawan Kekeringan

Waspada!  9 Kecamatan di Boyolali Masuk Zona Rawan Kekeringan

ilustrasi kekeringan di Boyolali. Foto : Ist/ Rizky--

BOYOLALI, diswayjateng.id - Berdasarkan hasil mitigasi, BPBD Kabupaten Boyolali mencatat terdapat puluhan desa di 9 kecamatan yang masuk dalam zona rawan kekeringan. Dimana, daftar wilayah terdampak berpotensi terdampak kekeringan terbagi dalam beberapa zona geografis. Masing-masing, kawasan lereng Gunung Merapi dan wilayah di sekitar pinggiran Waduk Kedungombo.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, mengatakan, saat ini sebagian wilayah Kabupaten Boyolali mulai dilanda kekeringan. 
"Untuk itu, BPBD Kabupaten Boyolali telah mendistribusikan air bersih 190.000 liter," ungkap Ari. 

Ia menerangkan, pendistribusian diutamakan kepada desa di Boyolali yang mengalami kekeringan cukup parah. Beberapa desa yang telah menerima distribusi bantuan air bersih antara lain Kecamatan Wonosegoro masing-masing di Desa Guwo dan Desa Ketoyan. 

Ada juga di Kecamatan Wonosamudro yakni Desa Bengle dan Desa Bercak. Kemudian di Kecamatan Selo yakni Desa Samiran. Serta, Kecamatan Tamansari Desa Sangup dan Kecamatan Cepogo Desa Kembangkuning.

BACA JUGA: Jelang Pilkades Serentak 2027, Personel Intelkam Polres Boyolali Dibekali Deteksi Dini

BACA JUGA: Polda Jateng Bongkar Peredaran Sabu Modus Sistem Tempel di Klaten dan Boyolali

Ari menambahkan, selain wilayah tersebut, kecamatan lain yang masuk dalam pemetaan rawan kekeringan adalah Wonosegoro, Wonosamudro, dan Kemusu. 

Dan berdasarkan peringatan BMKG pada periode Agustus hingga September akan menjadi masa puncak kekeringan.
"Sehingga, BPBD Kabupaten Boyolali telah mengantisipasi bencana kekeringan dengan menyiapkan 1,25 juta liter air bersih," terangnya. 

BACA JUGA: Rumah Warga Wonosamodro Boyolali Kebakaran, Ini Kronologi dan Penyebabnya!

BACA JUGA: Polres Boyolali Ringkus 2 Pengedar Sabu Asal Grobogan, 10,04 Gram Serbuk Kristal Setan Disita Petugas

Sebelumnya, BMKG memprediksi puncak musim kemarau sebagian besar diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026. Sebanyak 369ZOM yang mencakup 48,84% luas daratan Indonesia.

Sebagian besar musim kemarau di Indonesia diprediksi berlangsung 10 hingga 21 dasarian pada 388 ZOM yang mencakup 47,45% luas daratan Indonesia. Jika dibandingkan dengan normalnya, durasi musim kemarau di Indonesia umumnya diprediksi lebih panjang dari normalnya pada 437 ZOM yang mencakup 48,77% luas daratan Indonesia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait