HUT disway jateng

Anggap Kado Kelasan Wajar, Budaya Gratifikasi Guru Masih Tinggi

 Anggap Kado Kelasan Wajar, Budaya Gratifikasi Guru Masih Tinggi

MEIWAN DANI RISTANTO/RADAR TEGAL NARASUMBER - Wakil Wali Kota Tegal Tazkiyyatul Muthmainnah (kiri) didampingi Kepala SMP Negeri 1 Tegal Eko Winarno saat memberikan pemaparan dalam Edukasi Antikorupsi di Aula SMPN 1 Tegal, Selasa (7/7).--

TEGAL, diswayjateng.id – Upaya membabat habis budaya korupsi dan gratifikasi di lingkungan pendidikan Kota Bahari masih menghadapi tantangan berat. Salah satu pemicunya adalah persepsi keliru di masyarakat yang masih menganggap lumrah aksi "bagi-bagi hadiah" kepada guru saat momen kenaikan kelas atau hari raya.

 

Fakta mencengangkan itu diungkapkan Sekretaris Inspektorat Kota Tegal Siti Cahyani. Merujuk hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) yang dirilis Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Tahun 2024, angkanya tergolong fantastis.

 

"Masih ada 86,11 persen responden yang menganggap pemberian hadiah kepada guru saat hari raya atau kenaikan kelas sebagai sesuatu yang wajar," beber Siti di sela-sela Edukasi Antikorupsi dalam Pelayanan Pendidikan Kota Tegal di Aula SMP Negeri 1 Kota Tegal, Selasa (7/7).

 

Menurut Siti, tradisi "balas budi" terselubung ini harus segera dipangkas. Itulah mengapa Inspektorat Kota Tegal getol menggelar edukasi ke sekolah-sekolah secara maraton. Jika pada 2025 lalu program menyasar 10 SMP negeri, tahun 2026 ini edukasi menyasar sembilan SMP negeri dengan melibatkan guru dan orang tua murid.

 

"Budaya seperti ini harus kita ubah bersama agar tercipta lingkungan pendidikan yang bersih, berintegritas, dan bebas dari praktik korupsi maupun gratifikasi," tegasnya.

Di tempat yang sama, Wakil Wali Kota Tegal Tazkiyyatul Muthmainnah menekankan bahwa penegakan hukum saja tidak akan cukup untuk memberantas korupsi. Strategi paling ampuh harus dimulai dari hulu, yakni benteng keluarga dan lingkungan sekolah.

 

Perempuan yang akrab disapa Mbak Iin ini menyebut, keluarga adalah laboratorium pertama bagi anak untuk menyerap nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab.

 

"Keluarga harus menjadi teladan. Anak belajar bukan hanya dari apa yang kita sampaikan, tetapi dari apa yang kita lakukan setiap hari," ujar Mbak Iin.

 

Oleh karena itu, lanjut dia, sinergi antara orang tua dan guru di sekolah menjadi harga mati. Guru di sekolah bertugas memperkuat fondasi tersebut lewat budaya menolak nyontek dan menanamkan integritas saat proses belajar-mengajar.

 

"Sinergi antara keluarga dan sekolah sangat penting agar anak memahami bahwa kejujuran bukan hanya diajarkan, tetapi juga harus diterapkan dalam setiap aspek kehidupan," imbuhnya.

 

Melalui gerakan edukasi yang masif ini, Pemkot Tegal berharap tumbuh kesadaran kolektif. Tujuannya satu: mencetak generasi muda Tegal yang tidak hanya cerdas secara akademik, namun juga memiliki karakter "karang" yang tegas menolak perilaku koruptif saat terjun ke masyarakat kelak.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: