UMKM di Sragen Tercekik Gegara Harga Plastik

UMKM di Sragen Tercekik Gegara Harga Plastik

UMKM penjual es teh jumbo di sragen. (mukhtarulhafidh/diswayjateng.id)--Mukhtarul Hafidh / diswayjateng.id

SRAGEN, diswayjateng.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak nyata hingga ke pelosok daerah. Di Kabupaten Sragen, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini menjerit akibat kenaikan harga plastik yang dinilai sudah "ugal-ugalan". 

Sektor paling terdampak adalah para pedagang es teh dan minuman yang kesulitan menyesuaikan harga jual di tengah melambungnya biaya produksi.

Salah satu pedagang minuman di samping Masjid Al-Falah Sragen Cak Duma mengakui harga plastik naik signifikan. Harga cup 50 pcs biasanya Rp13.000 kini jadi Rp 25.000.

"Ini ganti harga mas, bukan naik lagi. Bayangkan cup tempat minuman biasanya Rp13.000 naik 100 persen," ucap.Cakadurma, Selasa 14 April.

BACA JUGA: Guru TK Dugaan Pencabulan Divonis 2 Tahun Penjara, Kuasa Hukum Sebut Hakim Ragu

BACA JUGA: Parkir Rp40 Ribu di Kota Lama Semarang Disorot, Wali Kota Agustina Turun Tangan dan Perintahkan Penertiban

Meskipun harga plastik naik hampir dua kali lipat, tapi pihaknya enggak berani menaikkan harga es teh. Setiap cup dijual Rp 3.000. Akhirnya keuntungan dia berkurang signifikan.

"Gak berani naik mas, kasihan yang beli di sini anak anak pelajar. Mau untung darimana kalau begini."

Kondisi ini mendapat sorotan tajam dari Ketua Fraksi Golkar DPRD Sragen, Pujono Elly Bayu Effendi. Saat diwawancarai wartawan hari ini, sosok yang akrab disapa Bayu ini mengaku merasakan langsung dampak tersebut karena dirinya juga merupakan seorang pengusaha es.

Bayu mengungkapkan bahwa plastik merupakan komponen yang tidak tergantikan dalam budaya konsumsi praktis masyarakat saat ini. Penggunaan plastik sekali pakai hampir mustahil dihindari oleh pedagang kecil

"Es teh saja pakai plastik, bungkus gorengan pakai plastik. Substitusinya apa? Masyarakat tidak mungkin beli es teh dipincuk (daun pisang). Saya sendiri kena imbasnya karena pekerjaan asli saya pedagang, DPRD itu tugas pengabdian tambahan," ujar Bayu kepada awak media.

Ia memaparkan kenaikan harga plastik yang terjadi saat ini mencapai angka yang fantastis. Plastik yang awalnya di kisaran harga tertentu, sekarang naik sampai 100 persen. 

"Saya setiap hari harus membungkus es sekitar 1.000 bungkus, itu langsung terasa. Mau menaikkan harga es dari Rp7.000 ke Rp8.000 saja masyarakat belum tentu mau menerima," keluhnya.

Menyikapi kondisi yang mencekik ini, Bayu mengaku telah menyuarakan aspirasinya kepada pimpinan partai di tingkat provinsi maupun pusat. Ia berharap pemerintah segera turun tangan mengintervensi harga bahan baku plastik yang didominasi oleh pelaku UMKM dan pedagang kaki lima.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: