Preman Kampung Nekat Malak Pertokoan Kawasan UMK Kudus Dibekuk Polisi

Preman Kampung Nekat Malak Pertokoan Kawasan UMK Kudus Dibekuk Polisi

Preman Kampung Nekat Malak Pertokoan Kawasan UMK Kudus Dibekuk Polisi--

KUDUS, diswayjateng.com- Seorang laki laki terpaksa dibekuk beramai ramai oleh warga. Gara garanya nekat mendatangi dan meminta uang secara paksa kepada para pemilik toko dan warung di depan kawasan Universitas Muria KUDUS

Dalam menjalankan aksinya, pria berlagak preman kampung dalam kondisi mabuk berat. Tentu saja ulah pelaku ini membuat geram warga. 

Mereka pun beramai ramai menangkap pelaku. ​Video penangkapan pemuda tersebut sempat viral di berbagai grup WhatsApp (WA) dan Facebook warga Kudus sekitar pukul 11.00 WIB.

Dari narasi dalam potongan video yang beredar, tampak pria itu ditangkap dan dikerumuni warga. Hingga akhirnya pihak kepolisian datang ke lokasi yang berada di depan kampus UMK di Jalan Lingkar UMK Gondangmanis, Bae, Kudus.

​Aksi meresahkan ini bermula saat pelaku menyisir deretan ruko di depan kampus Universitas Muria Kudus (UMK). Dengan aroma alkohol yang menyengat dari mulutnya ia meminta sejumlah uang kepada pemilik toko.

Beruntung, anggota piket Polsek Bae bergerak cepat menuju lokasi. Polisi datang ke lokasi, setelah menerima laporan warga.

Pelaku kemudian digelandang ke Mapolsek Bae untuk pemeriksaan lebih lanjut. 
Polisi membekuk pelaku yang dievakuasi ke dalam mobil patroli Polsek Bae Kudus--

Kapolres Kudus melalui ​Kapolsek Bae, Iptu Madiyono mengatakan, identitas pelaku berinisial S (40) yang bekerja sebagai buruh harian lepas. Pelaku merupakan warga Desa Tumpangkrasak, Kecamatan Jati.

​”Saat diperiksa, pelaku memang dalam kondisi mabuk alkohol. Namun, yang mengejutkan adalah alasannya melakukan tindakan tersebut,” ujar Iptu Madiyono.

​Kepada penyidik polisi, S memberikan keterangan yang melantur. Ia mengaku nekat beraksi, karena merasa mendapatkan perintah dari “gurunya” untuk memberantas tempat kos yang dianggap sebagai lokasi maksiat. 

Tak hanya itu, pelaku juga mengungkapkan kebenciannya terhadap wanita yang ia sebut “sok suci”.

​Namun, fakta lain terungkap setelah pihak kepolisian melakukan koordinasi dengan keluarga dan perangkat desa asal pelaku.

​Berdasarkan keterangan pihak keluarga, perilaku menyimpang S dipicu oleh masalah psikologis yang mendalam.

“Keluarga menyebut S mengalami depresi lantaran keinginannya untuk menikah tak kunjung terwujud karena tidak ada wanita yang mau dengannya,” ujar Kapolsek Bae.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: