Kritikan Pelajar ke MBG di Kudus Berbuntut Teror, PGRI Jateng Minta Tak Ada Intimidasi

Kritikan Pelajar ke MBG di Kudus Berbuntut Teror, PGRI Jateng Minta Tak Ada Intimidasi

Aktifitas pendistribusian MBG di SMK Miftahul Falah Kudus di tengah kritikan salah satu siswanya. --

KUDUS, diswayjateng.com - Postingan surat terbuka berupa kritikan terhadap program Makan Bergizi Gratis yang ditulis seorang siswa SMK NU Miftahul Falah KUDUS, kini memicu beragam respon di masyarakat. 

Bahkan postingan surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Prabowo itu, juga membuat Muhammad Rafif Arsya Maulidi - penulis surat- harus mengalami intimidasi dan teror. 

Viralnya kritikan program MBG yang dilontarkan salah seorang pelajar SMK Miftahul Falah Kudus ini, juga mengundang reaksi dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Tengah. 

Ketua PGRI Jawa Tengah, Muhdi menilai bahwa suara yang disampaikan siswa tersebut, mencerminkan kegelisahan yang juga dirasakan sebagian masyarakat.

‎"Kritikan terhadap program MBG sebenarnya bukan hal baru. Namun, menjadi perhatian, karena disuarakan oleh seorang pelajar, " ujar Muhdi pada Selasa (7/4/2026). 

Muhdi melihat tindakan yang dilakukan salah seorang pelajar SMK di Kudus ini, sebagai bukti bahwa siswa mulai peka terhadap kondisi di sekitarnya, termasuk persoalan pendidikan.

‎“Ini bukan suara baru, banyak pihak sudah menyampaikan. Tapi menjadi istimewa karena disampaikan oleh siswa SMK. Artinya, ini juga bagian dari suara masyarakat,” terang Muhdi yang menjadi anggota DPD RI ini. 

‎Ia menyoroti pentingnya penentuan prioritas dalam pembangunan pendidikan. Sebab persoalan mendasar pendidikan di Indonesia saat ini, masih berkaitan dengan kesejahteraan guru dan ketersediaan fasilitas sekolah. 

‎Muhdi mengakui masih banyak guru khususnya di sekolah swasta, yang menerima penghasilan jauh dari layak. Bahkan, tidak sedikit yang memperoleh gaji di bawah satu juta rupiah per bulan.

‎“Kalau kita ingin pendidikan maju, pastikan dulu guru mendapatkan penghasilan yang layak. Baik guru negeri maupun swasta harus dijamin kesejahteraannya,” tegasnya.

‎Ia juga menilai program MBG sebaiknya difokuskan pada siswa dari kalangan kurang mampu, bukan diterapkan secara merata. Dengan demikian, anggaran yang ada dapat dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih mendesak di sektor pendidikan.

‎“Tidak semua siswa membutuhkan program itu. Lebih baik difokuskan pada yang benar-benar membutuhkan, sementara anggaran lainnya bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” jelasnya.

‎Muhdi mengaku mengapresiasi keberanian siswa tersebut dalam menyampaikan pendapat. Ia menilai isi surat yang disampaikan tergolong santun, kritis, dan menunjukkan empati terhadap kondisi guru.

‎“Ini anak yang berpikir kritis dan punya kepedulian. Justru harus kita apresiasi, bukan sebaliknya,” tambahnya. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: