Batik Tegal Semakin Terpuruk, Banyak Perajin yang Gulung Tikar
BATIK TEGAL - Moh. Irfan menunjukkan Batik Tegal yang kini kian punah setelah hadirnya Batik Printing.--
SLAWI, diswayjateng.com - Di sudut sunyi Desa Bengle, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, jejak kejayaan batik seolah tinggal bayangan. Dulu, aroma malam panas dan kain yang dijemur berderet menjadi pemandangan biasa.
Kini, yang tersisa hanya ruang-ruang kerja yang lengang, tanpa suara canting, tanpa harapan yang pasti.
Batik Tegal, yang selama ini dikenal dengan sentuhan batik tulis dan cap yang khas, tengah berada di ujung tanduk. Tergerus arus zaman, kalah cepat oleh mesin, dan tergilas harga pasar yang kian tak bersahabat.
“Sekarang sudah sepi. Banyak yang berhenti. Saya sendiri sudah dua tahun tidak produksi,” ujar Moh. Irfan, perajin batik asal Bengle, Senin (30/3/2026).
Keputusan Irfan untuk berhenti bukan tanpa alasan. Pasca pandemi Covid-19, pasar batik Tegal semakin lesu. Produk-produk lokal kalah bersaing dengan batik printing dari luar daerah, terutama dari Pekalongan, yang membanjiri pasar dengan harga jauh lebih murah.
Di pasaran, batik tulis Tegal dibanderol antara Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per potong. Harga yang sepadan dengan proses panjang dan penuh ketelitian. Namun di sisi lain, batik printing hadir dengan harga yang jauh lebih terjangkau, menyasar semua lapisan masyarakat.
“Kalau dibandingkan, jelas kalah. Batik printing itu murah sekali. Semua orang bisa beli. Kalau batik Tegal, hanya kalangan tertentu saja,” tutur Irfan.
Ironisnya, keinginan para perajin untuk beradaptasi dengan teknologi printing justru terbentur modal. Harga mesin yang tinggi membuat mereka tak mampu beralih.
“Bukan tidak mau berubah. Kami ingin juga produksi printing. Tapi mesin itu mahal, kami tidak sanggup,” imbuhnya.
Di tengah kondisi itu, bantuan dari pemerintah daerah memang pernah hadir melalui pembelian batik untuk kebutuhan ASN. Namun, langkah tersebut belum cukup menjadi penopang keberlangsungan industri.
“Pesanan dari pemerintah tidak setiap hari. Hanya momen tertentu saja. Tidak bisa jadi pegangan untuk terus produksi,” kata Irfan.
Dampaknya, satu per satu perajin memilih menyerah. Ada yang beralih menjadi pedagang keliling, bahkan menjajakan siomay demi menyambung hidup. Sebuah ironi bagi industri yang dulu menjadi kebanggaan daerah.
Irfan sendiri sempat mencoba peruntungan sebagai petani lele. Namun usaha itu pun tak bertahan lama karena kesulitan pemasaran. Kini, ia kembali di persimpangan jalan.
“Saya masih bingung mau usaha apa lagi. Rencana lahan bekas lele mau dibangun untuk SPPG. Semoga bisa terealisasi,” ujarnya penuh harap.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


