Warga Padasari Tegal Jalani Ibadah Ramadan di Tenda Darurat Pengungsian
IBADAH - Pegungsi bencana tanah bergerak Padasari sempatkan jalankan ibadah tawarih di tenda pengungsian. --
SLAWI, diswayjateng.com - Sedikitnya puluhan warga yang terdampak bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, menjalani ibadah Ramadan 1447 Hijriah/2026 dalam kondisi serba terbatas di tenda pengungsian. Mereka terlihat tetap melaksanakan salat tarawih berjamaah di tenda darurat yang disediakan oleh PMI Kabupaten Tegal.
Meski tidak berada di rumah sendiri dan fasilitas ibadah terbatas, suasana penuh haru dan kekhusyukan tetap terasa di antara para pengungsi.
Mereka berupaya mempertahankan semangat beribadah meski masjid desa yang biasanya digunakan mengalami dampak akibat pergerakan tanah yang terjadi sebelumnya.
Saat ini, proses penanganan pascabencana masih terus berjalan dan tahap rekonstruksi belum sepenuhnya rampung.
Kondisi tersebut membuat ratusan kepala keluarga masih harus tinggal di pengungsian dan beradaptasi dengan berbagai keterbatasan selama menjalani bulan suci Ramadan.
Salah satu warga terdampak, Ningsih mengungkapkan rasa syukur karena masih dapat menjalankan puasa dan salat tarawih meski berada di pengungsian.
"Saya sempat mengenang suasana Ramadan tahun lalu yang bisa dijalani dengan nyaman di rumah bersama keluarga," ujarnya Rabu (25/2).
Dia menyampaikan bahwa meskipun kini berada di tenda, ia tetap bersyukur masih dapat beribadah.
"Tahun sebelumnya, saya dan keluarga masih bisa berbuka puasa di rumah dengan hidangan takjil yang lengkap," katanya.
Namun saat ini untuk memenuhi kebutuhan sahur dan berbuka puasa, para pengungsi mengandalkan makanan dari dapur umum yang tersedia di sekitar lokasi.
Namun, sebagian warga berinisiatif menambah lauk secara mandiri agar tidak bosan dengan menu yang ada. Selain persoalan logistik, kondisi ekonomi juga menjadi tantangan bagi para korban bencana.
"Saat ini bantuan uang tunai sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama Ramadan, termasuk keperluan anak-anak. Bantuan yang diterima sejauh ini masih terbatas, yakni sekitar Rp100 ribu per kepala keluarga dari donasi masyarakat," ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan oleh warga lainnya, Halimah, yang berharap adanya tambahan bantuan dari pemerintah. Ia menjelaskan bahwa banyak warga yang kehilangan mata pencaharian akibat bencana tersebut sehingga membutuhkan dukungan finansial untuk bertahan.
Di tengah situasi sulit, rasa kebersamaan di antara para pengungsi menjadi kekuatan utama. Meskipun menjalani Ramadan di tenda darurat memberikan pengalaman yang berbeda, semangat ibadah dan solidaritas antarwarga tetap terjaga, mencerminkan ketabahan para korban tanah bergerak di Desa Padasari.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: