100 Tahun Bubur India Masjid Pekojan Semarang: Tungku Tembaga dan Tradisi Ramadan yang Tak Pernah Punah

100 Tahun Bubur India Masjid Pekojan Semarang: Tungku Tembaga dan Tradisi Ramadan yang Tak Pernah Punah

BUBUR INDIA: Achmad Paserin, marbot masjid Djami Pekojan, jalan Petolongan, Kota Semarang mengaduk bubur India untu takjil buka puasa.-Wahyu Sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG,Diswayjateng.id — Asap putih perlahan mengepul di belakang Masjid Djami Pekojan, jalan Petolongan, Kota Semarang, sesaat setelah salat Jumat usai. Api membara dari bawah tungku, menyala stabil menopang kuali tembaga berukuran besar yang menghitam dimakan usia. 

Dari sanalah aroma rempah mulai menguar harum bawang, jahe, sereh, dan kayu manis menjadi penanda satu tradisi Ramadan yang telah hidup lebih dari satu abad yakni Bubur India

DIbelakab halaman masjid tua yang berdiri sejumlah lelaki bergantian mengaduk bubur tanpa henti. Gerakannya konstan, berirama, seolah menyatu dengan denting sendok kayu panjang yang menyentuh dinding kuali. 

“Kalau berhenti, bawahnya gosong. Kalau gosong, baunya sangit,” ujar Achmad Paserin, marbot masjid, Jumat 20 Februari 2026 siang. 

Achmad, pria yang disebut sebagai generasi keempat penerus tradisi bubur tersebut mengaku tak mengetahui secara pasti kapan pertama kali Bubur India dimasak di Masjid Djami Pekojan. Namun dari cerita turun-temurun, tradisi ini diperkirakan telah berlangsung sekitar 100 tahun. 

“Katanya sih sudah 100-an tahun. Yang dulu itu usianya sudah 70 tahun, dari kecil sudah lihat ini,” tuturnya. 

Masjid Djami Pekojan sendiri dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Semarang, berdiri di kawasan yang sejak dulu menjadi permukiman komunitas keturunan India dan Arab. Jejak sejarah itu terasa kuat dalam tradisi kulinernya bubur berempah khas India yang hanya hadir selama Ramadan. 

Setiap hari selama 30 hari penuh, bubur ini menjadi menu wajib berbuka puasa. 

Proses memasak dimulai sejak pagi hari. Bumbu-bumbu diracik terlebih dahulu: bawang merah, bawang putih, onclang, wortel, daun salam, sereh, jahe, hingga daun pandan. Rempah seperti kayu manis dan kayu dadap turut menambah kekayaan rasa. 

“Bumbunya standar rempah-rempah biasa, tidak ada yang khusus,” kata Achmad merendah. 

Setelah semua bahan siap, beras dimasukkan ke dalam kuali tembaga besar yang dipesan khusus dari Boyolali. Kuali ini tak dijual bebas di pasaran karena ukurannya yang besar dan harus cukup kuat menahan panas kayu bakar. 

Dalam sekali masak, sekitar 21 kilogram bahan diolah. Jika dirasa kurang, takaran bisa ditambah. Proses memasak memakan waktu sekitar satu hingga satu setengah jam. Namun yang paling menguras tenaga adalah mengaduknya. 

Pengadukan dilakukan manual tanpa henti selama proses memasak. Selain agar matang merata, teknik ini mencegah bubur lengket dan gosong di dasar kuali. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: