Makam di Mulyorejo Terendam Banjir, Tradisi Nyekar Jelang Ramadan Sepi
Warga sedsng berziarah di TPU Desa Mulyorejo Pekalongan--Mukhtarom
PEKALONGAN, diswayjateng.com – Banjir yang telah lebih dari sebulan merendam Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten PEKALONGAN, Jawa Tengah, tak hanya menggenangi permukiman warga. Tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat juga ikut terendam, menghambat tradisi ziarah makam jelang Ramadan.
Seperti diketahui, menjelang datangnya bulan suci, masyarakat Muslim di berbagai daerah, termasuk di Desa Mulyorejo, memiliki tradisi nyekar atau berziarah ke makam keluarga untuk memanjatkan doa.
Biasanya, TPU desa dipadati peziarah yang datang silih berganti. Namun, pemandangan berbeda terlihat tahun ini. Area pemakaman tampak lengang, hanya beberapa warga yang nekat datang meski harus menerjang genangan air.
Akses jalan menuju makam masih tergenang air setinggi sekitar 40 sentimeter. Sejumlah pusara bahkan nyaris seluruhnya terendam, menyisakan batu nisan yang terlihat di permukaan.
Endah Suciati (29), salah satu warga yang tetap berziarah, mengaku kondisi ini baru pertama kali terjadi.
“Ziarah ke makam bapak dan mas ipar untuk mendoakan dalam rangka bulan suci Ramadan. Kondisi makam masih banjir jadi tidak banyak yang berkunjung. Biasanya jelang Ramadan ramai, tapi ini sepi. Tahun sebelumnya belum pernah seperti ini, ini baru pertama kali,” ujar Endah, Rabu (18/2/2026).
Karena genangan air cukup tinggi, sejumlah peziarah terpaksa memanjatkan doa sambil berdiri di tengah air. Waluyo (51) mengatakan, tradisi nyekar biasanya rutin dilakukan setiap Kliwon atau menjelang 1 Ramadan. Namun kali ini terasa berbeda.
“Biasanya tidak seperti ini, ini baru kali ini banjir. Kirim doa ke orang tua dan kerabat. Ya sambil berdiri kirim doanya, yang biasanya jongkok,” tuturnya.
Kesedihan juga dirasakan Yuna yang datang bersama suami dan adiknya. Meski makam anaknya terendam dan hanya batu nisan yang terlihat, ia tetap khusyuk berdoa. Tangisnya pecah saat memanjatkan doa untuk almarhum anak, serta kakek dan neneknya yang telah lebih dahulu wafat.
“Ya kesulitan, Mas. Biasanya banjir besar ini agak surut. Mendoakan anak, nenek dan kakek, rutin setiap Ramadan,” kata Yuna lirih.
Warga berharap banjir yang telah berlangsung lebih dari satu bulan ini segera surut. Selain mengganggu tradisi keagamaan, genangan air juga membuat aktivitas sehari-hari masyarakat Desa Mulyorejo menjadi terhambat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: