Daerah Rawan Banjir, Kecamatan Tegal Timur Prioritaskan Program Penanggulangan Genangan
SAMBUTAN - Camat Tegal Timur Toat Hartono memberikan sambutan pembuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kecamatan yang dilaksanakan di Pendapa Kecamatan Tegal Timur, Kamis (12/2).--
TEGAL, diswayjateng.com - Tegal Timur pun menjadi daerah yang rawan banjir. Maka, program penanggulangan banjir masih menjadi prioritas usulan dalam perencanaan pembangunan.
Kecamatan Tegal Timur memang jantung kota. Denyutnya terasa. Aktivitasnya padat. Sarana dan prasarananya sudah relatif lengkap. Namun, itu semua bukan jaminan.
Begitu musim penghujan datang, air tidak peduli ini pusat kota atau pinggiran.
Inilah yang ditegaskan Camat Tegal Timur Toat Hartono. Pada acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kecamatan yang digelar di Pendapa Kecamatan, Kamis (12/2), Toat membedah persoalan banjir yang kerap mengantui wilayahnya.
Tegal Timur memang berada di posisi yang tidak sederhana. Kecamatan ini diapit oleh dua sungai. Bukan sungai kecil, tapi juga sungai besar. Gung dan Ketiwon.
Jika intensitas hujan sedang tinggi, Kelurahan Mintaragen dan Panggung, menjadi cerita yang terus berulang. Air bukan hanya menutup jalan dan halaman. Namun, juga masuk ke rumah-rumah.
Warga, terpaksa harus mengungsi ke tempat aman. Seperti yang terjadi di Jalan Ciliwung, RW 9 Mintaragen dan RW 9, 10, dan 11 Panggung baru-baru ini. Air memaksa warga untuk sementara terhambat aktivitasnya.
Belum lagi rob. Air laut pasang yang datang dalam siklusnya. Lagi-lagi warga Mintaragen dan Panggung yang terkena dampaknya. Mereka bahkan sudah hafal polanya. Tapi tetap saja, ketika air masuk, yang basah bukan hanya lantai rumah.
Kantor Kelurahan Mintaragen pun kerap tergenang. Bahkan kantor kecamatan tak sepenuhnya aman, meski sudah ada pembangunan saluran sebagai antisipasi.
Yang paling hangat, banjir limpasan dari Sungai Ketiwon merangsek ke pemukiman RW 9 dan 10 Panggung, Rabu malam (11/2). Tanggul kritis tergerus arus deras. Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tegal, 902 rumah terdampak, dihuni 3.811 jiwa.
Beberapa warga sempat mengungsi ke masjid dan musala. Namun, tengah malam, satu per satu mulai kembali ke rumah masing-masing. Dini hari, beberapa titik mulai surut.
Tak hanya Mintaragen dan Panggung, beberapa titik banjir juga muncul di Slerok. Terutama, RW 3, karena tanggul dan pintu air mengalami kerusakan. Air sering meluap ke rumah-rumah warga. Beberapa kelurahan lainnya, juga tak sepenuhnya terbebas dari banjir. Menurut Toat, penanggulangan banjir membutuhkan langkah komprehensif. “Terintegrasi, bukan parsial,” kata Toat dalam sambutannya.
Toat berharap Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pengelolaan Sistem Drainase yang sedang dibahas di Panitia Khusus VI DPRD Kota Tegal dan Tim Asistensi Penyusunan Raperda Pemerintah Kota Tegal segera jadi dan diimplementasikan.
Sehingga, program penanggulangan banjir bisa segera direalisasikan, termasuk untuk wilayah Tegal Timur. “Butuh peran kolaborasi, sinergi OPD dan masyarakat,” imbuh Toat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: