11 Jembatan Putus Diterjang Banjir Bandang, Warga Desa Penakir Terisolasi Hampir Tiga Pekan
Salah satu jembatan putus akibat banjir bandang di Dusun Sawangan, Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Pemalang (8/2/2026)--Mukhtarom
PEMALANG, diswayjateng.com – Banjir bandang yang menerjang Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten PEMALANG, Jawa Tengah, pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026 lalu, meninggalkan dampak serius bagi kehidupan warga. Sedikitnya 11 jembatan penghubung antar dusun terputus, membuat sejumlah wilayah terisolasi dan aktivitas ekonomi warga terganggu hingga hampir tiga pekan.
Kepala Desa Penakir, Agus Riyadi, mengatakan banjir bandang tersebut memutus akses vital yang menghubungkan beberapa dusun, di antaranya Dukuh Sawangan, Dukuh Wanasari, dan sebagian Dukuh Sarangan.
Kondisi ini menyulitkan mobilitas warga, termasuk petani yang bergantung pada akses jembatan untuk menunjang mata pencaharian mereka.
“Beberapa dukuh sempat terisolir. Saat ini kami bersama masyarakat dan elemen yang ada melakukan kerja bakti di sekitar Sungai Gintung, supaya akses ke RT 20 sampai RT 25, bahkan menuju Gunungsari, bisa kembali terhubung,” kata Agus, Minggu, 8 Februari 2026.
Menurutnya, kerusakan jembatan telah berlangsung sekitar 17 hari sejak bencana terjadi. Dari total 11 jembatan yang rusak di Desa Penakir, empat di antaranya berada di Dukuh Sawangan, yang menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah.
Upaya pemulihan sementara dilakukan secara swadaya melalui gotong royong warga, dibantu donasi dari luar desa. Pemerintah desa juga telah mengajukan proposal pembangunan jembatan darurat kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Beberapa jembatan putus dibuatkan jembatan darurat dengan anyaman bambu yang hanya bisa digunakan untuk pejalan kaki dan melintas sepeda motor secara bergantian. Jembatan tersebut sangat rapuh dan cukup membahayakan.
“Tenaga kita gotong royong bersama masyarakat. Selain memperbaiki akses, ini juga untuk memberi semangat agar warga tidak berlarut-larut dalam trauma pascakejadian,” ujarnya.
Meski sebagian warga masih mengalami trauma, aktivitas pertanian dan kegiatan harian mulai kembali berjalan secara bertahap. Agus menegaskan, kebutuhan paling mendesak saat ini bukan lagi logistik, melainkan pemulihan infrastruktur, khususnya akses penghubung antar dusun.
“Akses ini sangat menopang perekonomian warga. Logistik masih aman, tapi ke depan yang paling kami pikirkan adalah infrastruktur, karena tanpa akses, aktivitas ekonomi warga tidak bisa normal,” pungkasnya.
Respon cepat dari pemerintah sangat diharapkan, agar jenbatan oenghubung antar dusun tersebut bisa segera dibangun kembali sehingga aktifitas warga bisa berjalan dengan normal.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
