Dari Sastra Prancis ke Gamelan, Angga Yudhika Hidupkan Musik Tradisi Lewat Aransemen Orisinal
Angga Yudhika (kanan) lulusan sastra Prancis memainkan gamelan pada pertunjukam di Semarang-Dok pribadi-Wahyu Sulistiyawan
SEMARANG, Diswayjateng.com — Latar belakang pendidikan Sastra Prancis tak menghalangi Angga Yudhika (32) menapaki jalan hidup sebagai penggarap musik tradisional Jawa. Warga Semarang ini justru menemukan panggilan hidupnya melalui gamelan, yang pertama kali ia kenal saat bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada 2011.
Awalnya, Angga hanya tertarik mencoba karena penasaran dengan bunyi kenong, saron, dan kendang yang menurutnya terdengar menarik. Namun dari ketertarikan sederhana itu, gamelan perlahan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.
“Awalnya hanya coba-coba karena kelihatannya asyik. Lama-lama justru ketagihan sampai sekarang,” ujar Angga kepada Diswayjateng.id, Sabtu 31 Januari 2026.
Berangkat dari pengalaman sebagai pemain, Angga mulai menggarap aransemen musik tradisional secara serius sejak 2021, setelah pandemi Covid-19 mereda. Karya-karya awalnya digunakan sebagai musik pengiring lomba Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SMP di sejumlah daerah, seperti Pekalongan hingga Rembang.
Ia menegaskan, musik yang dibuatnya selalu orisinal dan tidak mengambil materi yang sudah beredar di platform digital. Setiap karya disusun dari awal sesuai kebutuhan tari.
Dalam satu produksi musik berdurasi sekitar enam menit, Angga biasanya membutuhkan waktu dua hari. Hari pertama digunakan untuk menyusun aransemen, sementara hari kedua untuk proses rekaman. Seluruh proses dilakukan secara manual tanpa jalan pintas.
Angga memilih tetap menjadikan gamelan sebagai unsur utama dalam setiap karyanya. Instrumen seperti kendang, bonang barung, dan vokal sinden menjadi fondasi utama. Jika ada tambahan alat musik modern seperti saksofon atau biola, fungsinya hanya sebagai pemanis.
“Gamelan tetap jadi ruhnya,” katanya.
Inspirasi musik Angga banyak dipengaruhi gaya karawitan Solo. Meski demikian, ia berupaya tidak meniru secara mentah. Setiap karya dibuat dengan rasa yang berbeda, menyesuaikan alur cerita tari yang akan diiringi.
Biasanya, penari hanya memberikan gambaran singkat tentang adegan. Dari situ, Angga menerjemahkannya ke dalam komposisi musik.
“Kalau adegannya sedih, tempo saya buat lebih pelan dan suasananya ditarik ke bawah,” ujarnya.
Kini, menggarap musik tradisional bukan lagi sekadar hobi bagi Angga. Aktivitas tersebut menjadi sumber penghasilan utama. Selain membuat aransemen musik tari, ia juga rutin tampil sebagai pemain gamelan di acara pernikahan dan kegiatan kampus, dengan frekuensi sekitar lima kali tampil setiap bulan.
Untuk tarif, Angga membedakan harga berdasarkan konsep produksi. Musik berbasis MIDI dibanderol sekitar Rp2,5 juta hingga Rp3 juta. Sementara pertunjukan live dengan pemain lengkap dan vokal sinden berkisar Rp3,5 juta hingga Rp5 juta.
“Kalau live harus menyewa pemain lain, jadi bebannya tentu berbeda,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: