Hujan di Pantura Bukan Sekadar Basah, Aquaplaning Jadi Ancaman Nyata

Hujan di Pantura Bukan Sekadar Basah, Aquaplaning Jadi Ancaman Nyata

Aquaplaning mengintai pengendara motor di Jalur Pantura saat hujan. Ban bisa kehilangan grip dan motor melayang.-Dok. Astra Motor Jateng-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG, Diswayjateng.com – Di balik perannya yang vital, jalur pantai utara jawa (Pantura) menyimpan ancaman serius yang kerap diremehkan pengendara sepeda motor, terutama saat musim hujan tiba yaitu aquaplaning.

Seperti diketahui, Jalur Pantai Utara (Pantura) selama puluhan tahun dikenal sebagai urat nadi logistik nasional. Setiap hari, ribuan kendaraan besar dan kecil melintas membawa barang, kebutuhan pokok, hingga penggerak ekonomi antarwilayah. 

Namun, aspal yang terlihat mulus, bahkan beton yang tampak kokoh, bisa berubah menjadi “perangkap licin” ketika hujan mengguyur. Banyak kecelakaan tunggal maupun beruntun di Pantura terjadi bukan karena tabrakan langsung, melainkan akibat motor tiba-tiba kehilangan kendali saat melintasi genangan air.

Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah, Oke Desiyanto, menjelaskan bahwa aquaplaning atau sering disebut hydroplaning merupakan kondisi berbahaya ketika ban motor kehilangan kontak langsung dengan permukaan jalan karena terhalang lapisan air.

“Dalam kondisi normal, alur ban berfungsi membelah dan membuang air. Namun saat kecepatan terlalu tinggi atau ban sudah aus, ban tidak mampu lagi menyingkirkan air dan justru mengapung di atasnya,” jelas Oke, Selasa, 20 Januari 2026.

Saat itulah motor kehilangan traksi. Pengendara tetap memegang setang, namun roda seakan meluncur tanpa kendali. Dalam hitungan detik, situasi bisa berubah fatal. 

Risiko aquaplaning di Jalur Pantura meningkat karena kombinasi beberapa faktor yang sering terjadi bersamaan.

Pertama, kecepatan tinggi. Banyak pengendara memacu motor di atas 60 km/jam, terutama saat kondisi jalan tampak lengang. Padahal, kecepatan menjadi faktor utama terjadinya aquaplaning.

Kedua, kondisi ban. Ban yang sudah menipis atau botak tidak lagi memiliki alur optimal untuk membuang air. Saat hujan, ban seperti ini sangat mudah kehilangan grip.

Ketiga, karakter permukaan jalan. Di Pantura, kerap ditemui perbedaan tinggi antara aspal dan beton, cekungan kecil, hingga tambalan jalan yang menampung air. Genangan tipis yang terlihat sepele justru paling berbahaya karena sulit diprediksi.

Refleks alami pengendara saat motor terasa goyang atau melayang di atas genangan adalah menarik tuas rem sekuat-kuatnya. Menurut Oke, inilah kesalahan paling fatal.

“Ketika aquaplaning terjadi, roda tidak memiliki cengkeraman sama sekali. Jika pengendara mengerem mendadak, terutama rem depan, roda akan langsung terkunci. Motor bisa lowside atau terpelanting seketika,” ujarnya.

Di Jalur Pantura yang dipadati truk dan bus besar, terjatuh di tengah jalan bukan sekadar risiko luka, tetapi juga ancaman tertabrak kendaraan berat dari belakang.

Meski terdengar menakutkan, aquaplaning masih bisa diantisipasi dan dikendalikan jika pengendara memahami langkah yang benar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: