Pancuran 13 Guci Tegal Berbayar, Warga dan Tokoh Masyarakat Setempat Mengeluh

Pancuran 13 Guci Tegal Berbayar, Warga dan Tokoh Masyarakat Setempat Mengeluh

BERKUNJUNG - Sejumlah warga Desa Guci, Kecamatan Bumijawa saat berkunjung ke kantor Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Tegal, Senin (19/1/2026).--

SLAWI, diswayjateng.comPancuran 13 Guci, ikon wisata legendaris di lereng Gunung Slamet yang selama puluhan tahun menjadi denyut nadi ekonomi warga, kini justru memantik kegelisahan. 

Kebijakan tiket masuk berbayar hingga Rp27 ribu per orang dinilai memberatkan dan menggerus denyut wisata kawasan andalan Kabupaten Tegal itu.

Suara keberatan datang dari berbagai lapisan, mulai warga, tokoh masyarakat, pedagang kecil, hingga wisatawan. 

Nurkhanan, warga RT 01 RW 03 Desa Guci, Kecamatan Bumijawa, menyebut kebijakan tersebut berdampak langsung ke ekonomi masyarakat bawah.

“Menurut saya pribadi, Pancuran 13 yang sekarang berbayar saya kurang setuju. Walaupun ada pemasukan untuk desa, tapi tarifnya terlalu mahal. Pengunjung jadi berkurang, pedagang kecil ikut terdampak,” keluhnya.

Ia mengenang masa ketika Pancuran 13 Guci masih gratis dan selalu dipadati wisatawan. Saat itu, pedagang asongan hingga kaki lima ikut merasakan perputaran uang yang hidup.

“Dulu gratis, pengunjung ramai. Sekarang Guci malah dijuluki ‘seribu tiket’. Salah satunya ya Pancuran 13. Itu jadi beban buat wisatawan,” tambah Nurkhanan.

Keluhan serupa disampaikan Taufik, warga RT 04 RW 02 Desa Guci. Ia menilai kebijakan tiket berbayar telah menggerus identitas Guci sebagai wisata rakyat.

“Ikon Guci itu Pancuran 13. Harapan kami sederhana, dikembalikan gratis seperti dulu. Sekarang orang mikir-mikir mau masuk,” tegasnya.

Tak hanya warga, wisatawan pun ikut angkat suara. Edi Mustofa (42), wisatawan asal Pekalongan, mengaku kaget dengan harga tiket yang harus dibayar hanya untuk menikmati pemandian air panas.

“Kalau ditotal dengan parkir dan tiket lain, mahal juga. Padahal niat kami ke Guci itu cari yang alami dan harga terjangkau. Kalau seperti ini, mungkin cukup sekali saja,” ucapnya kecewa.

Wisatawan lain, Siti Aminah (45) dari Kota Tegal, mengaku rindu suasana Pancuran 13 tempo Guci dulu.

“Dulu datang ke sini itu rasanya bebas, nggak banyak hitung-hitungan. Sekarang sebelum masuk sudah mikir biaya. Sayang sekali,” keluhnya.

Persoalan sosial pun ikut mencuat. Ketua Masyarakat Adat Reksawana Guci, Sobirin, menyoroti kerumitan akses bagi warga lokal dan kerabat mereka yang ingin mandi air panas.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait