Dua Jam yang Berubah Jadi Tujuh Jam, Kisah Safira Terjebak Banjir di Jalur KA Pekalongan

Dua Jam yang Berubah Jadi Tujuh Jam, Kisah Safira Terjebak Banjir di Jalur KA Pekalongan

Kondisi Stasiun Poncol Semarang sabtu (17/1) tampak lebih padat dari biasanya. Penumpang memadati layanan customer service, menanyakan nasib perjalanan mereka--

SEMARANG, diswayjateng.com – Safira Nurulita tak pernah membayangkan perjalanan singkat yang biasanya hanya memakan waktu dua jam justru berubah menjadi perjalanan panjang penuh penantian. Bersama suaminya, warga Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak itu terjebak banjir di jalur kereta api Pekalongan hingga lebih dari tujuh jam.

Sabtu siang (17/1/2026), Safira dan suaminya berangkat dari Stasiun Poncol Semarang menggunakan Kereta Api Kaligung 219 relasi Semarang–Tegal. 

Tujuan mereka sederhana: mengurus keperluan administrasi keluarga sekaligus bersilaturahmi ke rumah orang tua di Brebes.

Sejak sebelum tiba di stasiun, Safira sudah mendengar kabar bahwa jalur kereta di Pekalongan terendam banjir. 

Keraguan sempat muncul. Ia dan suaminya bahkan mempertimbangkan untuk membatalkan perjalanan dan beralih ke moda transportasi lain agar bisa sampai lebih cepat.

Kondisi Stasiun Poncol siang itu pun tampak lebih padat dari biasanya. Penumpang memadati layanan customer service, menanyakan nasib perjalanan mereka. Safira ikut mengantre, berharap mendapatkan kepastian.

Petugas KAI kemudian menawarkan dua pilihan: pengembalian dana penuh atau tetap melanjutkan perjalanan dengan kereta pengganti. 

Menjelang jadwal keberangkatan, keputusan diambil. Safira dan suaminya dialihkan menggunakan Kereta Api Kamandaka.

Perjalanan yang diharapkan lancar ternyata berjalan pelan.

Kereta beberapa kali berhenti lama di sejumlah stasiun, mulai dari Krengseng, Batang, hingga Pekalongan. 

Di petak jalur yang terendam banjir, kecepatan kereta dibatasi hanya sekitar 10 kilometer per jam.

“Biasanya Semarang ke Tegal cuma sekitar dua jam. Kali ini rasanya sangat panjang,” kata Safira.

Rasa lelah dan jenuh tak terelakkan. Safira sesekali berpindah ke gerbong restorasi untuk membeli makanan dan minuman. 

Saat kereta berhenti cukup lama, ia bahkan sempat turun sejenak hanya untuk menghirup udara luar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: