Tanggul Sungai Plumbon Jebol Lagi, Warga Mangkang Kulon Selamatkan Bayi Saat Banjir Setinggi Dada
Pekerja memperbaiki tanggul sungai Plumbon yang jebol sejak kamis 15 Januari 2026.-Wahyu Sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan
SEMARANG, Diswayjateng.com – Malam itu seharusnya berjalan tenang, namun bagi warga Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, hujan yang turun sejak Kamis, 15 Januari 2026 justru berubah menjadi awal kepanikan. Tanggul Sungai Plumbon kembali jebol, memicu banjir yang merendam ratusan rumah dengan ketinggian air mencapai dada orang dewasa.
Air datang perlahan, lalu tak terbendung. Jalanan kampung yang awalnya tergenang setinggi selutut, berubah menjadi arus deras yang masuk ke rumah-rumah warga. Tidak sedikit warga yang hanya sempat menyelamatkan diri dan anggota keluarganya.
Nuronia, salah satu warga terdampak, masih mengingat jelas detik-detik sebelum tanggul jebol. Saat itu, air sudah menggenangi bagian depan rumahnya.
“Waktu itu malam Jumat, posisi depan rumah sudah banjir selutut. Lama-lama naik terus. Di dalam rumah sudah ada rembesan, saya panggil suami yang lagi tahlilan buat nambah penahan. Belum selesai, tahu-tahu sudah jebol,” ujar Nuronia, kepada Diswayjateng.id Sabtu, 17 Januari 2026 pagi.
BACA JUGA:Limpasan Kali Plumbon Picu Banjir Terparah Awal 2026, Dua Kelurahan di Semarang Tugu Terendam
Dalam situasi panik, naluri seorang ibu membuatnya tak berpikir panjang. Ia langsung mengangkat bayinya yang baru berusia tiga bulan, meninggalkan hampir seluruh barang di rumahnya.
“Saya enggak mikir apa-apa, yang penting anak. Bayi umur tiga bulan langsung saya angkat. Di dalam rumah paling parah air sampai seperut. Di sini saya berdiri sudah sampai dada,” ungkapnya.
Air yang deras membuat warga tak sempat menyelamatkan perabot rumah tangga. Banyak peralatan elektronik, kasur, hingga dokumen penting rusak terendam banjir.
Menurut Nuronia, kerusakan tanggul bukanlah kejadian baru. Ia menilai minimnya sistem peringatan dini memperparah dampak banjir yang dialami warga.
“EWS sudah dua tahun rusak, konslet, belum diperbaiki. Padahal kalau ada peringatan, kita bisa siap-siap, barang-barang bisa dinaikkan,” katanya.
Ia berharap pemerintah segera memperbaiki sistem Early Warning System (EWS) agar warga memiliki waktu untuk mengantisipasi datangnya banjir, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah hulu sungai.
Selain itu, Nuronia juga menyoroti rencana peninggian tanggul yang hingga kini belum terealisasi.
“Harapannya cepat dibangun. Katanya mau ditinggikan, ada pembebasan lahan juga, tapi sampai sekarang belum jelas,” ujarnya.
Ketua RT 1 RW 3 Mangkang Kulon, Abdul Rohim, menjelaskan bahwa tanggul yang jebol memiliki panjang sekitar tujuh meter. Selain itu, tembok rumah warga di sisi sungai juga ambrol dengan lebar sekitar lima meter.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
