PMII Demak Gelar Diskusi Bulanan, Bedah Kualitas Kader di Tengah Disrupsi Zaman

PMII Demak Gelar Diskusi Bulanan, Bedah Kualitas Kader di Tengah Disrupsi Zaman

Diskusi Bulanan PMII-nungki diswayjateng-

Demak, diswayjateng.com – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Abdurrahman Wahid Kabupaten Demak kembali menggelar diskusi bulanan sebagai ruang refleksi dan penguatan intelektual kader.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pendopo Rumah Dinas DPRD Kabupaten Demak dan diikuti oleh puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Diskusi kali ini mengangkat tema “Menakar Kembali Kualitas Kader PMII di Tengah Disrupsi Zaman: Tantangan Ideologis dan Peluang Gerakan Mahasiswa”.

Tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi mahasiswa saat ini yang dihadapkan pada dinamika perubahan sosial, politik, dan global yang semakin kompleks.

Narasumber diskusi, Anis Mukhlas, menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) kader PMII agar mampu menjawab tantangan zaman.

Menurutnya, perubahan iklim, konstelasi politik nasional maupun global, hingga derasnya arus informasi menuntut mahasiswa untuk terus mengasah kapasitas intelektual dan ideologis.

“Diskusi ini menjadi ruang untuk melihat kembali kapasitas kader PMII. Tantangan zaman sangat luar biasa, sehingga kader harus dibekali wawasan yang kuat agar tidak mudah terprovokasi dan terpengaruh oleh kelompok tertentu,” ujarnya, Rabu (14/1/2026).

Ia menambahkan, tantangan terbesar mahasiswa di era disrupsi bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga krisis arah dan identitas.

Oleh karena itu, PMII diharapkan mampu menjadi ruang pembentukan kader yang tidak hanya cakap secara wacana, tetapi juga siap berjuang, bekerja, dan mandiri setelah menyelesaikan studi.

Menurut Anis, diskusi semacam ini penting untuk menyadarkan mahasiswa bahwa bangku kuliah hanyalah sebuah fase.

Setelah itu, dibutuhkan strategi hidup, keberanian mengambil peluang, serta kesiapan mental agar tidak terjebak dalam fenomena pengangguran terdidik. Kader PMII dituntut merdeka dalam berpikir dan berdaya secara ekonomi tanpa meninggalkan nilai-nilai perjuangan.

Sementara itu, Ketua PMII Komisariat Abdurrahman Wahid, Fikri Haikal, menyampaikan bahwa diskusi bulanan merupakan upaya menjaga tradisi berpikir kritis di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

“Diskusi ini menjadi ruang untuk menakar kembali kualitas kader PMII agar tetap relevan, kritis, dan mampu menjawab tantangan zaman, baik secara ideologis maupun praktis,” katanya.

Ia menegaskan bahwa disrupsi zaman menuntut mahasiswa tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga memiliki kesiapan mental, intelektual, serta kemandirian ekonomi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: