Denyut Terakhir Lapak Buku Stadion Diponegoro: Ketika Pasar Ilmu Tinggal Kenangan
Penjualan buku bekas di Stadion Diponegoro kini kian sepi pembeli.-Wahyu Sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan
SEMARANG, Diswayjateng.com – Di sudut selatan kawasan Stadion Diponegoro, SEMARANG, sebuah kios bercat hijau berdiri menghadap langsung ke tempat pembuangan sampah. Di lapak buku Stadion Diponegoro sanalah Harri menghabiskan waktu siangnya sembari duduk sendiri di antara rak-rak buku bekas yang tertata rapi, dengan berharap sesuatu yang kini kian jarang datang yakni pembeli.
Selasa siang, 13 Januari 2026, kios itu lengang. Tak ada suara tawar-menawar, tak terdengar langkah kaki mahasiswa yang dulu silih berganti. Harri hanya memainkan gawainya, sesekali merapikan tumpukan buku, seolah berharap ada seseorang yang berhenti dan bertanya, meski sekadar melihat-lihat lapak buku di Stadion Diponegoro ini.
Pemandangan serupa juga tampak di kios-kios lain di kawasan Stadion Timur Semarang. Lapak-lapak buku yang masih bertahan sama-sama sunyi. Yang tersisa hanyalah para penjual yang menunggu, serta rak-rak buku yang perlahan dimakan usia dan perubahan zaman.
Pernah ada masa ketika kawasan Stadion Timur Semarang berdenyut seperti pasar ilmu pengetahuan. Sejak pagi hingga malam, mahasiswa mondar-mandir memilih buku.
BACA JUGA:Betonisasi Jalan Majapahit Bikin Tiga Halte Trans Semarang Tak Sejajar Bus, Ini Solusi BLU
BACA JUGA:Betonisasi Jalan Majapahit Semarang Disorot DPRD, Sejumlah Halte Trans Semarang Terendam
Kawasan ini menjadi rujukan utama bagi pelajar dan mahasiswa yang mencari buku teks, referensi penelitian, hingga literatur langka dengan harga terjangkau. Buku-buku metode penelitian, statistik, dan teori sosial menjadi primadona.
Namun denyut itu kini tinggal kenangan. Kawasan buku yang dulu berada di bagian belakang stadion perlahan menyusut, terdesak, dan berpindah ke area belakang dekat tempat sampah, sunyi, dan nyaris luput dari pandangan publik.
Harri telah berjualan buku bekas sejak 2008. Selama hampir dua dekade, ia menyaksikan perubahan wajah dunia perbukuan secara perlahan namun pasti. Setiap kali membicarakan soal pendapatan, napasnya terdengar lebih berat.
“Sekarang sehari Rp50 ribu itu sudah bagus, malah sering kosong, enggak ada yang beli,” ujarnya lirih.
Rp50 ribu bukan lagi target, melainkan keberuntungan. Kadang tercapai, lebih sering tidak. Dulu, Harri membuka lapak sejak pagi hari. Kini, kios baru dibuka sekitar pukul 10.00 WIB dan menjelang pukul 17.00 WIB ia sudah bersiap menutupnya.
BACA JUGA:Kinerja Pegadaian Kanwil XI Semarang 2025 Melesat, Pembiayaan Tumbuh di Atas 40 Persen
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

