Dua Nyawa Melayang di Jalan Lebakgowah Tegal, Warga Patungan Bayar Relawan Lalu Lintas
MELINTAS - Sejumlah pengendara melintas di ruas jalan kabupaten di Desa Lebakgowah, Kecamatan Lebaksiu, Senin (12/1/2026).--
SLAWI, diswayjateng.com – Berdasarkan catatan warga, sejak 2022 hingga 2025 sedikitnya dua orang meninggal dunia dan belasan lainnya mengalami luka berat maupun ringan akibat kecelakaan di ruas jalan Lebakgowah Kabupaten Tegal.
Ruas jalan kabupaten di Desa Lebakgowah, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, kian mengkhawatirkan. Jalan yang setiap hari dipadati kendaraan itu kini dijuluki warga sebagai “jalur maut”, menyusul seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas hingga menelan korban jiwa.
Ironisnya, sebagian besar korban merupakan warga setempat dan pejalan kaki yang harus berbagi ruang dengan kendaraan bermotor di jalan sempit tanpa pengaman memadai.
Warga RW 03 Desa Lebakgowah, Ibrohim Aji, menuturkan kepadatan lalu lintas terjadi hampir setiap hari, terutama pada jam masuk sekolah dan jam berangkat kerja karyawan pabrik.
“Pagi dan sore arus kendaraan padat, banyak motor dan mobil melaju kencang, bahkan overload. Kondisi ini sangat rawan kecelakaan,” kata Ibrohim Aji, Senin (12/1/2026).
BACA JUGA:Jalan Pagerbarang–Balapulang Tegal Rusak, Lubang Besar dan Bergelombang Rawan Kecelakaan
BACA JUGA:Awal Tahun, DPRD Kota Tegal Tancap Gas Jalankan Fungsi Pengawasan
Menurutnya, jalan desa yang kini berstatus sebagai jalan kabupaten itu tidak lagi mampu menampung volume kendaraan yang terus meningkat. Minimnya rambu lalu lintas, marka jalan, serta ketiadaan trotoar dan pembatas kecepatan semakin memperbesar risiko kecelakaan.
Data kejadian yang dihimpun warga mencatat, pada 2022 seorang lansia bernama Maryamah meninggal dunia usai terserempet motor karyawan. Setahun kemudian, Bambang juga meregang nyawa dengan kasus serupa.
Pada tahun-tahun berikutnya, korban luka terus berjatuhan, mulai dari Mbah Kartinah, Wismiati, Mbah Naim, pegawai bank keliling, pelajar SMAN 2 Slawi, hingga Mujayanah yang mengalami luka berat setelah ditabrak mobil boks.
“Angka ini belum tentu semuanya tercatat resmi. Bisa jadi masih ada kejadian yang tidak dilaporkan,” imbuh Ibrohim.
Kondisi memprihatinkan itu mendorong warga RW 03 mengambil langkah swadaya. Mereka bahkan membentuk relawan lalu lintas yang bertugas setiap pagi di perempatan jalan untuk membantu warga keluar masuk jalan utama. Relawan tersebut digaji Rp250 ribu per bulan dari hasil donasi warga.
BACA JUGA:32 Pamen Polda Jateng Jalani Sertijab Awal 2026, Kapolda Tekankan Amanah Jabatan
BACA JUGA:Resmikan Ruas Jalan, Bupati Sragen Beri Ide Dermaga Pengembangan Wisata Makam Butuh
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: