Jalur Pegunungan Jateng Menantang, Ini Strategi Aman Hadapi Tikungan Tajam dan Turunan Panjang

Jalur Pegunungan Jateng Menantang, Ini Strategi Aman Hadapi Tikungan Tajam dan Turunan Panjang

Astra Motor Jateng membagikan tips dan trik cara mengendarai motor di tikungan pegunungan.-Dok Astra Motor Jateng-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG, Diswayjateng.id – Provinsi Jawa Tengah dikenal memiliki bentang alam pegunungan yang indah sekaligus menantang bagi pengendara sepeda motor. Sejumlah jalur seperti kawasan Dieng, lereng Merapi–Merbabu, hingga rute selatan Cilacap–Pangandaran kerap menjadi pilihan favorit para rider. 

Namun, kondisi geografis tersebut menyimpan risiko tinggi jika tidak dihadapi dengan teknik berkendara yang tepat.

Karakter jalan pegunungan di Jateng umumnya dipenuhi tikungan tajam, tanjakan dan turunan ekstrem, serta permukaan jalan yang mudah berubah. Kondisi ini berbeda jauh dengan jalan datar dan menuntut pengendara untuk menyesuaikan kecepatan serta teknik pengereman secara cermat.

Banyak pengendara, khususnya yang terpengaruh gaya balap, kerap mencoba teknik menikung dengan posisi motor miring ekstrem. Padahal, keselamatan berkendara di jalur pegunungan tidak diukur dari seberapa rebah motor, melainkan dari kemampuan mengelola kecepatan dan pengereman secara aman.

Salah satu prinsip utama yang perlu dipahami adalah Slow In, Fast Out, yakni mengurangi kecepatan sebelum memasuki tikungan dan mempercepat laju kendaraan setelah keluar dari tikungan. Sebagian besar tikungan di kawasan perbukitan bersifat blind corner, sehingga pengendara tidak dapat melihat kondisi di balik tikungan, termasuk potensi kendaraan dari arah berlawanan, kerikil, atau satwa liar yang melintas.

Kecepatan ideal di tikungan pegunungan adalah kecepatan yang memungkinkan pengendara berhenti total jika terjadi kondisi darurat. Selain itu, permukaan jalan yang kerap tertutup pasir, tanah, lumpur, atau tumpahan oli membuat teknik menikung dengan kecepatan tinggi sangat berisiko dan berpotensi menyebabkan motor tergelincir.

Selain pengaturan kecepatan, pengereman menjadi faktor krusial, terutama saat melintasi turunan panjang. Kesalahan dalam mengelola pengereman di jalur menurun disebut menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan fatal di daerah pegunungan. Pengereman yang dilakukan ketika motor sedang miring dapat memicu efek motor berdiri tegak dan keluar jalur.

Teknik yang dianjurkan adalah melakukan pengereman saat posisi motor masih lurus, sebelum memasuki tikungan, dengan komposisi sekitar 70 persen rem depan dan 30 persen rem belakang. Pengendara juga disarankan menurunkan gigi untuk memaksimalkan engine braking. Jika diperlukan koreksi kecepatan di tengah tikungan, pengereman ringan atau trailing brake dapat dilakukan secara hati-hati untuk menjaga kestabilan.

Saat menuruni bukit, pengendara diimbau tidak menahan tuas rem secara terus-menerus. Metode pengereman kuat secara singkat lalu dilepas dan diulang dinilai lebih aman karena membantu mendinginkan sistem rem dan mencegah risiko rem blong. Penggunaan gigi rendah, seperti gigi satu atau dua, juga membantu mesin menahan laju kendaraan. Sementara bagi pengguna motor matik, penurunan kecepatan drastis sebelum turunan serta pengaturan gas ringan dapat membantu kinerja pengereman.

Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah, Oke Desiyanto, menegaskan bahwa jalur pegunungan bukan tempat untuk menguji batas kemampuan seperti di sirkuit.

“Riding di pegunungan adalah ujian sesungguhnya dari kematangan seorang pengendara. Pegunungan Jateng bukan sirkuit, dan nyawa jauh lebih berharga daripada sensasi rebah maksimal. Ingatlah selalu, riding yang smart adalah riding yang kembali utuh sampai di rumah,” ujarnya, Sabtu 27 Desember 2025.

Dengan memahami karakter jalan dan menerapkan teknik berkendara yang aman, pengendara diharapkan tetap dapat menikmati keindahan alam pegunungan Jawa Tengah tanpa mengabaikan faktor keselamatan. (Sul)

 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: