Tak Layak Ditinggali, Puluhan Rumah di Zona Bahaya Dirobohkan
Rumah milik warga korban bencana tanah bergerak di Desa Sridadi Kecamatan Sirampog dirobohkan. --
BREBES, (DISWAYJATENG.ID) - Puluhan rumah warga di Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes terpaksa dirobohkan. Rumah tersebut merupakan rumah korban tanah bergerak di Dukuh Karanganyar RT 03 RW 05 Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog.
Total ada 57 rumah yang rusak parah akibat tanah bergerak yang terjadi sejak 2019. Sedangkan rumah yang terdampak bencana itu, baik yang mengalami kerusakan sedang maupun kerusakan berat ada 185 rumah. Ke 57 rumah itu bakal dibongkar dan penghuninya bakal direlokasi ke hunian sementara (huntara).
Satgas Penanggulangan Bencana BPBD Brebes, Budi Sujatmiko mengatakan, pembongkaran rumah melibatkan tim gabungan dari ratusan relawan.
"Kondisi pergerakan tanah sangat parah, sehingga seluruh bangunan rumah harus dirobohkan dan dipindah ke lokasi Huntara," ungkap Budi.
Material rumah yang dirobohkan akan digunakan kembali untuk membangun Huntara. Pergerakan tanah di Desa Sridadi sendiri telah berlangsung sejak dua tahun terakhir.
Sedikitnya 65 rumah penduduk terkena dampak tanah gerak sehingga harus direlokasi. Budi menyebut, terdapat 185 kepala keluarga (KK) atau 767 jiwa yang terdampak bencana tersebut. Warga yang rumahnya dibongkar diungsikan ke Pondok Pesantren Al Insan dan rumah keluarga terdekat.
"Total ada 57 rumah yang rusak parah dan harus direlokasi. Untuk penghuni rumah sementara kami pindahkan di pondok pesantren dan tenda pengungsian. Pengungsi saat ini berjumlah seratusan orang," lanjut dia.
Dia menuturkan, rekomendasi hasil kajian dari Bandan Geologi untuk wilayah Desa Sridadi Kecamatan Sirampog sudah keluar. Bahkan rekomendasi yang sudah dua kali keluar itu hasilnya sama. Ialah bahwa untuk wilayah Dukuh Karanganyar, Karanggondang, dan Pengasinan tidak layak untuk ditinggali.
Sementara itu, warga yang menjadi korban bencana tahah bergerak, Jamilah mengaku, dirinya dan keluarga tinggal di tenda pengungsian sejak rumahnya dirobohkan. Ia bakal tinggal di tenda sampai rumah hunian sementara berdiri.
"Bantuan logistik untuk para pengungsi sangat jumlahnya minim. Di tenda pengungsian banyak yang kekurangan selimut, bantal, dan lainnya. Ini juga belum ada pemeriksaan kesehatan," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: radar brebes

