Pendidikan di Era Digital: Antara Tantangan dan Harapan

Pendidikan di Era Digital: Antara Tantangan dan Harapan

--

Penguatan pendidikan karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, Rohis, Paskibra, dan pembiasaan keagamaan di sekolah harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar pelengkap.

Ketiga, Guru di Persimpangan Zaman 

Guru hari ini berada di persimpangan yang tidak mudah. Di satu sisi, guru dituntut untuk melek teknologi, tetapi di sisi lain guru dituntut untuk tetap menjadi teladan moral. Beban administrasi yang masih tinggi juga sering kali membuat guru kehilangan waktu untuk berinovasi dan mendekati siswa secara personal. 

Namun, banyak guru di Tegal yang terbukti mampu menjawab tantangan tersebut dengan luar biasa. Mereka mau belajar otodidak membuat media pembelajaran digital, membuat konten edukasi di media sosial, tetapi tetap sabar membimbing siswa dengan segala keterbatasannya.

Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Namun, mereka butuh dukungan. Dukungan pelatihan yang berkelanjutan, bukan sekadar seminar seremonial. Dukungan pengurangan beban administrasi agar bisa fokus mengajar. Serta dukungan penghargaan yang layak. 

Lalu, apa harapan kita ke depan? Pendidikan di era digital tidak boleh dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang. Peluang untuk membuat pendidikan kita lebih merata, lebih berkualitas, dan lebih relevan dengan kebutuhan zaman. 

Sinergi adalah kuncinya. Pemerintah daerah harus terus mendorong pemerataan akses internet hingga pelosok desa. Dinas Pendidikan harus memastikan pelatihan guru benar-benar menyentuh kebutuhan di lapangan. Sekolah harus membuka diri dan berkolaborasi dengan orang tua karena pendidikan karakter yang paling utama justru dimulai dari rumah. 

Orang tua tidak bisa menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah dan gawai. Dan masyarakat, termasuk media seperti Radar Tegal yang kita cintai ini, memiliki peran untuk terus mengawal isu pendidikan, memberikan edukasi positif, dan menjadi penyeimbang di tengah gempuran informasi negatif.

Pada akhirnya, secanggih apapun teknologi yang kita miliki, tujuan pendidikan tetap sama, yaitu memanusiakan manusia. Membuat anak-anak di Tegal tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional dan spiritual. Jika itu terwujud, kita tidak perlu khawatir menyongsong Indonesia Emas 2045. Karena dari ruang-ruang kelas sederhana di Tegal inilah, masa depan bangsa itu sedang disiapkan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: